Permohonan Maaf Henny Maria ‘RedKoki’ Terkait Kontroversi Sertifikasi Executive Chef ASEAN

Nasional9 Views

Kontroversi Sertifikasi Executive Chef ASEAN, Henny Maria ‘RedKoki’ Akhirnya Minta Maaf – Henny Maria, yang lebih dikenal dengan nama RedKoki, menjadi sorotan publik setelah mengumumkan pencapaiannya dalam memperoleh sertifikasi nasional untuk jabatan Executive Chef dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Melalui unggahan di media sosial pada Sabtu, 9 Mei 2026, Henny Maria menyatakan bahwa sertifikasi tersebut diakui di 13 negara anggota ASEAN. Ia berharap pengakuan ini dapat berkontribusi dalam upaya pembenahan sistem manajemen sumber daya manusia di bidang kuliner demi kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Namun, pengumuman tersebut justru memicu berbagai reaksi dari warganet. Sebagian publik meragukan keabsahan klaim pengakuan sertifikasi di seluruh negara ASEAN. Sementara itu, sebagian lainnya menganggap cara penyampaiannya terlalu sensitif, terutama karena dikaitkan dengan isu yang sedang hangat dibicarakan masyarakat.

Baca juga: Pengamen Alun-Alun Bogor Wajib Punya ID Card dan Patuhi Jam Operasional

Perdebatan semakin memanas ketika Chef Arnold Poernomo, seorang tokoh kuliner ternama di Indonesia, turut memberikan komentarnya pada Minggu, 10 Mei 2026. Sindiran dari Chef Arnold ini semakin menempatkan nama Henny Maria di bawah sorotan tajam, menarik perhatian publik lebih dalam terhadap isi unggahannya.

Menyikapi berbagai kritik dan respons negatif yang diterimanya, Henny Maria akhirnya menyampaikan permohonan maaf pada Senin, 11 Mei 2026. Ia secara spesifik meminta maaf kepada para chef yang merasa kurang nyaman atau tersinggung atas pernyataannya.

Henny menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki niat untuk menyinggung atau membuat pihak mana pun merasa tidak senang. Ia menekankan pentingnya menjaga harmonisasi di antara para profesional di bidang kuliner.

Dalam pernyataan lanjutannya, Henny Maria juga mengajak masyarakat luas untuk memberikan dukungan kepada para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner yang berada di kawasan Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Ia menyampaikan bahwa para pedagang di area tersebut turut merasakan dampak negatif dari penurunan kepercayaan konsumen pasca tragedi yang terjadi di Kalibata.

Menurut Henny, para pedagang tersebut sangat membutuhkan dukungan dari masyarakat agar dapat bangkit kembali dan melanjutkan usaha mereka. Ia berharap perhatian publik dapat dialihkan untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Kontroversi ini menjadi pengingat pentingnya kehati-hatian dalam setiap penyampaian informasi di platform media sosial. Hal ini terutama berlaku ketika menyangkut isu-isu sensitif seperti profesi, sertifikasi, dan topik publik yang memiliki dampak luas.