Survei Terbaru: 33 Persen Gen Z Klaim Miliki Kemampuan Supranatural dan Intuisi Tajam – Sebuah laporan terkini yang dirilis oleh Talker Research menyoroti pergeseran persepsi generasi terhadap fenomena supranatural.
Temuan mengejutkan dari survei tersebut mengungkap bahwa hampir sepertiga, tepatnya 33%, dari Generasi Z di Amerika Serikat menyatakan pernah mengalami kejadian yang melampaui penjelasan rasional. Angka ini dilaporkan dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan yang diakui oleh Generasi Baby Boomer.
Menurut penjelasan yang disarikan dari laman inifolks, konsep kemampuan supranatural yang dibahas dalam studi ini mencakup berbagai pengalaman, mulai dari komunikasi dengan almarhum hingga prediksi masa depan.
Baca juga: Ekonomi Seseorang Bisa Dilihat dari Wajah, Pengaruhi Kesempatan Kerja
Generasi Z cenderung menginterpretasikan kemampuan ini sebagai bentuk intuisi yang sangat peka, khususnya dalam memprediksi arah perkembangan suatu situasi. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan dalam fokus intuisi antar kelompok usia.
Menariknya, Generasi Baby Boomer dan Gen Z sama-sama merasa memiliki “indra keenam” yang kuat terkait urusan finansial. Sementara itu, Generasi Milenial lebih sering mengandalkan intuisi mereka dalam ranah asmara dan relasi sosial.
Di sisi lain, Generasi X diidentifikasi sebagai kelompok yang paling akurat dalam membuat prediksi. Hal ini mengindikasikan adanya variasi dalam manifestasi dan efektivitas intuisi di setiap generasi.
Fenomena peningkatan kepercayaan pada hal-hal non-rasional ini tidak terlepas dari pengaruh besar media sosial. Tren penggunaan kristal, praktik pembacaan tarot, hingga kajian astrologi kini semakin meresap ke dalam budaya populer.
Istilah-istilah seperti *manifesting* dan konsep “delulu”—keyakinan bahwa afirmasi positif yang kuat dapat mewujudkan realitas—telah menjadi bagian integral dari gaya hidup digital generasi muda.
Data tambahan dari Pew Research Center pada tahun 2025 semakin menguatkan tren ini. Survei tersebut menemukan bahwa sekitar 30% warga Amerika Serikat setidaknya sekali dalam setahun berkonsultasi dengan peramal atau pembaca tarot. Meskipun demikian, mayoritas responden mengaku melakukannya lebih sebagai bentuk hiburan daripada keyakinan mutlak.
Para pakar mengamati bahwa tren ini merupakan respons terhadap meningkatnya kecemasan global. Di tengah ketidakpastian ekonomi, ketegangan geopolitik, dan ancaman krisis iklim, banyak individu dari generasi muda mencari cara alternatif untuk mendapatkan rasa aman dan rasa kendali atas kehidupan mereka. Hal ini menjadi semakin relevan, terutama ketika akses terhadap layanan kesehatan mental masih terbatas bagi sebagian kalangan.






