GueBerita.com – Pemerintah Indonesia secara konsisten meluncurkan berbagai langkah strategis guna mempercepat eliminasi penyakit Tuberkulosis (TB) di tanah air.
Mengingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi kasus TB tertinggi di dunia, upaya ini menempati posisi krusial sebagai prioritas nasional. Tujuannya jelas: menyelamatkan nyawa masyarakat dan menghentikan penyebaran virus TB.
Dalam sebuah konferensi pers yang diselenggarakan di Jakarta pada hari Rabu, 6 Mei, Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI, Muhammad Qodari, memaparkan perkembangan terkini program penanggulangan TB yang menunjukkan kemajuan berarti.
“Kami berhasil menemukan lebih dari 241.000 kasus TB. Angka inisiasi pengobatan mencapai 84% dari target 95%, dan keberhasilan pengobatan berada di angka 80% dari target 90%,” ungkap Qodari, menggarisbawahi komitmen pemerintah yang kuat dalam menekan angka kasus TB di Indonesia.
Meskipun angka inisiasi pengobatan belum sepenuhnya mencapai target 95% dan keberhasilan pengobatan belum menyentuh 90%, langkah-langkah yang telah diambil ini terbukti efektif dalam mempercepat proses deteksi dini dan pemberian pengobatan kepada para pasien.
Baca juga: Gaun Gelembung Eileen Gu Memukau di Met Gala 2026
Salah satu strategi kunci yang diterapkan adalah penguatan upaya skrining TB. Hal ini diintegrasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah digagas oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sejak awal tahun 2025.
Lebih lanjut, pemerintah juga berupaya meningkatkan kapasitas deteksi dini di tingkat lokal dengan menyediakan alat Near Point of Care (nPOC) dan mesin X-Ray di berbagai puskesmas.
Untuk memastikan percepatan pencapaian target program TB di tahun 2026, pemerintah menaruh perhatian khusus pada perbaikan kondisi lingkungan tempat tinggal pasien TB. Program ini berfokus pada perbaikan sebanyak 8.000 rumah pasien TB yang berada di wilayah prioritas dengan angka kasus TB yang tinggi.
Tujuan utama dari inisiatif ini adalah untuk secara efektif memutus mata rantai penularan TB sekaligus menciptakan lingkungan rumah yang layak huni, yang nantinya akan sangat mendukung proses pemulihan pasien.
“Pemerintah menargetkan perbaikan 8.000 rumah pasien TBC di wilayah prioritas dengan beban kasus tinggi. Angka ini merupakan peningkatan signifikan dari target sebelumnya, yaitu 300 rumah per tahun pada periode 2020 hingga 2023,” jelas Qodari, menekankan progres yang dicapai dalam program perbaikan rumah ini.






