GueBerita.com – Enam tahun penantian akhirnya berakhir. Indonesia dipastikan kembali mengukir jejak di kancah seni rupa internasional melalui partisipasinya di Venice Biennale 2026.
Keikutsertaan kembali Paviliun Indonesia ini ditandai dengan sebuah pameran seni grafis yang memukau bertajuk “Printing the Unprinted: The Story of the Grand Voyage”. Pameran ini diselenggarakan di lokasi prestisius, Scuola Internazionale di Grafica.
Sebanyak 21 karya etsa berkualitas tinggi dipamerkan, merupakan hasil kolaborasi apik dari tujuh seniman lintas generasi. Narasi utama yang diusung dalam pameran ini adalah sebuah ekspedisi imajiner yang memakan waktu 14 tahun. Perjalanan khayal ini dimulai dari jantung Danau Toba, membentang hingga ke Venesia dan melintasi Eropa Tengah pada era abad ke-15.
Pameran ini mengajak pengunjung untuk melihat dari sudut pandang seorang tokoh arsiparis imajiner, yang diberi nama Datu Na Tolu Hamonangan. Tiga kapal simbolik menjadi poros utama dalam penceritaan yang dihadirkan melalui karya-karya yang dipamerkan. Kapal Siboru Deak Parujar digambarkan sebagai kapal induk yang memimpin, Naga Padoha merepresentasikan penjaga kosmik yang menjaga keseimbangan, sementara Sahala ni Ombak menjadi simbol dari semangat penjelajahan ilmiah yang tak kenal lelah.
Perjalanan yang dikisahkan ini tidak semata-mata merupakan lintasan geografis belaka. Ia melintasi Sumatra, Laut Merah, hingga mencapai Aleksandria. Lebih dari itu, perjalanan ini digambarkan sebagai sebuah ruang pertemuan yang kaya, tempat bertemunya kekayaan budaya Nusantara dengan peradaban dunia lainnya yang telah berkembang.
Dua seniman yang turut berkontribusi dalam pameran ini, Nurdian Ichsan dan Theresia Agustina Sitompul, masing-masing membawa perspektif yang unik dan mendalam. Nurdian secara khusus mengeksplorasi titik temu antara keahlian para perajin Batak dengan kemajuan teknologi yang mulai merambah dari Eropa. Hasilnya adalah sebuah perpaduan visual yang memukau, menggabungkan keindahan gorga Batak yang khas, unsur heraldik Eropa yang megah, serta kosmologi tiga dunia yang penuh makna.
Sementara itu, Theresia menghadirkan sebuah ruang refleksi yang mendalam bagi para penikmat seni. Ia mengajak untuk merenungkan ritual-ritual yang lazim dilakukan sebelum pelayaran dimulai, serta momen-momen pencarian makna baru yang muncul seiring perjalanan.
Proyek pameran yang ambisius ini dikurasi dengan cermat oleh Aminudin TH Siregar. Keberhasilan penyelenggaraannya merupakan buah dari kolaborasi erat berbagai lembaga penting. Di antaranya adalah Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Danantara Indonesia Trust Fund, MTN Seni Budaya, serta Negeri Elok.
Baca juga: Wisatawan Tewas Akibat Jatuh dari Wahana Ekstrem di Sichuan
Kembalinya Indonesia ke panggung bergengsi Venice Biennale ini dipandang sebagai sebuah momentum yang sangat krusial. Hal ini menjadi kesempatan emas untuk memperkenalkan kekayaan identitas budaya, kedalaman mitologi, serta lapisan sejarah bangsa Indonesia. Semua ini diperkenalkan melalui medium seni grafis modern yang relevan, di panggung seni kontemporer internasional yang dinamis dan selalu berkembang. (*)






