Optimalkan Peran Jaringan Wanita untuk Menurunkan Indeks Ketimpangan Gender

News6 Views

GueBerita.com – Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kabupaten Nganjuk mengambil langkah proaktif dengan menggelar acara Penguatan Kapasitas Organisasi Perempuan di Ruang Rapat Anjuk Ladang Pemkab Nganjuk pada Rabu, 17 Juni 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari strategi penting untuk menekan angka Indeks Ketimpangan Gender (IKG) di wilayah tersebut. Selain itu, inisiatif ini juga bertujuan untuk mengatasi tantangan signifikan yang masih dihadapi perempuan, khususnya dalam aspek kesehatan dan pendidikan.

Acara tersebut dihadiri oleh 175 peserta yang terdiri dari berbagai elemen kunci. Mereka meliputi Tim Penggerak PKK di tingkat kabupaten dan kecamatan, Gabungan Organisasi Wanita (GOW), Dharma Wanita Persatuan, berbagai organisasi perempuan lainnya, serta perwakilan dari Sekolah Perempuan dan Sapa Mama Desa.

Peran serta jaringan organisasi perempuan ini dianggap sangat vital. Hal ini dikarenakan posisi mereka yang memiliki kedekatan langsung dengan struktur masyarakat di tingkat paling dasar, yaitu keluarga.

Dalam sambutannya saat membuka acara, Ketua TP PKK Kabupaten Nganjuk, S. Wahyuni Marhaen, menyoroti adanya beberapa indikator makro yang memerlukan perhatian dan tindakan bersama.

Salah satu isu yang diangkat adalah terkait kesehatan reproduksi. Tercatat adanya peningkatan proporsi perempuan yang memulai kehamilan dan melahirkan anak pertama pada usia di bawah 20 tahun. Fenomena ini menjadi perhatian serius.

Kondisi tersebut ternyata berkaitan erat dengan masih tingginya angka perkawinan usia anak di Nganjuk. Dampak negatifnya tidak hanya terbatas pada sektor kesehatan, tetapi juga berimplikasi pada penurunan tingkat pencapaian pendidikan formal bagi perempuan.

Data yang disajikan menunjukkan tren penurunan tingkat pendidikan. Persentase penduduk berusia 25 tahun ke atas di Kabupaten Nganjuk yang berhasil menyelesaikan pendidikan minimal setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat mengalami penurunan. Angka ini bergeser dari 29,35 persen menjadi 28,47 persen.

Faktor utama yang diduga kuat menyebabkan gejala putus sekolah ini adalah pernikahan dini. Pernikahan di usia muda seringkali memaksa anak perempuan untuk menghentikan proses pendidikan formal mereka.

Oleh karena itu, penguatan kapasitas yang dilakukan ini difokuskan pada pemberian bekal keterampilan. Peserta dibekali dengan metode komunikasi dan edukasi yang berbasis pada pendekatan masyarakat. Materi pelatihan mencakup isu-isu krusial seperti kesehatan reproduksi remaja dan upaya mitigasi angka putus sekolah.

Struktur organisasi perempuan diposisikan sebagai agen perubahan yang memiliki peran formal. Melalui peran ini, mereka diharapkan dapat mengedukasi masyarakat secara luas. Tujuannya adalah untuk mendorong kemandirian ekonomi serta meningkatkan kualitas hidup seluruh anggota keluarga.