GueBerita.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Surabaya berupaya mengakselerasi pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Sosialisasi dan pengisian mandiri telah diselenggarakan di Gedung Sawunggaling pada Rabu, 6 Mei 2026, sebagai langkah awal.
Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat basis data ekonomi kota. Upaya ini menjadi semakin penting mengingat pesatnya transformasi digital dan perubahan pola bisnis yang terus berkembang. Data yang akurat sangat dibutuhkan untuk menghadapi dinamika tersebut.
Sensus Ekonomi 2026 sendiri merupakan kegiatan pendataan komprehensif yang dilakukan setiap sepuluh tahun sekali. Fokusnya adalah pada pelaku usaha di luar sektor pertanian. Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai aktivitas ekonomi di seluruh negeri.
Pelaksanaan sensus tahun ini dijadwalkan berlangsung selama tiga bulan, yaitu mulai dari 1 Mei hingga 31 Juli 2026. Semua jenis pelaku usaha, dari skala mikro hingga besar, akan dilibatkan. Termasuk di dalamnya adalah sektor ekonomi digital yang menunjukkan pertumbuhan sangat signifikan.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Surabaya, Syamsul Hariadi, menekankan pentingnya tahun 2026 sebagai periode krusial. Hal ini terkait dengan arah pembangunan ekonomi yang akan ditempuh oleh kota Surabaya.
“Kita sedang berada dalam fase transformasi ekonomi yang sangat cepat, mulai dari ekonomi digital, ekonomi kreatif, hingga ekonomi berkelanjutan,” tegas Syamsul. Ia menyoroti berbagai sektor yang mengalami perubahan pesat dan memerlukan perhatian khusus.
Baca juga: Wakil Wali Kota Blitar Dorong Literasi Balita Lewat Kunjungan Posyandu
Syamsul lebih lanjut menggarisbawahi bahwa data yang dikumpulkan bukan sekadar angka statistik belaka. Data tersebut merupakan fondasi utama yang akan digunakan dalam merumuskan kebijakan-kebijakan strategis di masa mendatang. Tanpa data yang valid, kebijakan yang dibuat berisiko tidak tepat sasaran.
“Bagi Surabaya, data adalah dasar menentukan arah pembangunan. Apa yang Bapak/Ibu sampaikan akan sangat menentukan kebijakan ke depan,” ujar dia. Ia mengajak para pelaku usaha untuk berpartisipasi aktif dan memberikan informasi yang jujur dan akurat.
Menurutnya, pengalaman dari pendataan sebelumnya melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) telah memberikan gambaran yang cukup detail. Data tersebut mencakup kondisi masyarakat hingga tingkat rumah tangga, memberikan wawasan yang mendalam.
Data yang dihimpun mencakup berbagai aspek penting. Mulai dari profil penghuni rumah tangga, tingkat pendidikan anggota keluarga, jenis pekerjaan yang ditekuni, hingga kondisi kesehatan. Informasi ini sangat berharga untuk merancang intervensi kebijakan yang lebih tepat sasaran dan efektif.
“Kalau ada pengangguran usia produktif, kita bisa arahkan ke peluang kerja yang sesuai. Artinya, data itu menjadi alat intervensi,” jelasnya. Dengan data yang akurat, pemerintah dapat mengidentifikasi masalah dan merancang solusi yang konkret untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.






