Strategi Kemenhut Cegah Karhutla Lewat Bimtek Penyuluh Sultra 2026
GueBerita.com – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengambil langkah Strategis dalam mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan memperkuat kompetensi sumber daya manusia di tingkat lapangan. Langkah ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi Penyuluh Kehutanan di Provinsi Sulawesi Tenggara yang berlangsung pada 26 hingga 27 Oktober 2026 di Claro Hotel, Kendari.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BP2SDM) Kemenhut ini melibatkan 77 orang Penyuluh Kehutanan berstatus ASN. Para peserta tersebut merupakan perwakilan dari Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tenggara serta jajaran Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Kehutanan yang bertugas di wilayah tersebut.
Fokus utama dari pelatihan ini adalah meningkatkan efektivitas peran penyuluh dalam mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan sekaligus memperkuat sistem pencegahan karhutla berbasis masyarakat. Dalam konteks kehutanan, penyuluh memegang peranan krusial sebagai jembatan informasi antara kebijakan pemerintah pusat dan implementasi di lapangan.
Kepala BP2SDM Kemenhut menekankan bahwa penyuluh bukan sekadar tenaga teknis, melainkan garda terdepan dalam membangun kesadaran kolektif. Mereka memiliki fungsi multifaset, yakni sebagai edukator, fasilitator, motivator, serta pendamping masyarakat dalam menjaga integritas kawasan hutan.
Dalam arahannya, ditekankan bahwa kompleksitas tantangan karhutla saat ini menuntut pendekatan yang lebih kolaboratif. Pencegahan kebakaran hutan tidak bisa dibebankan pada satu instansi saja, melainkan memerlukan sinergi lintas sektor yang melibatkan berbagai elemen, antara lain:
- Masyarakat lokal dan Kelompok Tani Hutan (KTH).
- Generasi muda pelestari hutan (Genries).
- Dunia usaha dan pengelola kawasan.
- Akademisi serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
- Media massa sebagai penyebar informasi publik.
Melalui Bimtek selama dua hari tersebut, para penyuluh diharapkan mampu mengonsolidasikan kekuatan di tingkat tapak. Kemampuan untuk menggerakkan partisipasi aktif masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam menekan angka kejadian kebakaran hutan, terutama di wilayah dengan kerawanan tinggi seperti Sulawesi Tenggara.
Peningkatan kompetensi ini juga diarahkan untuk memperkuat pendampingan terhadap Kelompok Tani Hutan (KTH) dan kelompok generasi muda. Dengan pendampingan yang intensif, diharapkan ekosistem hutan dapat terjaga dengan lebih baik melalui pola pengelolaan yang berkelanjutan dan berbasis pada kearifan lokal serta kepatuhan terhadap regulasi.
Output dari kegiatan ini ditargetkan mampu menciptakan sistem deteksi dini dan respons cepat di tingkat desa yang dimotori oleh penyuluh. Dengan demikian, peran penyuluh sebagai garda terdepan tidak hanya berhenti pada tataran sosialisasi, tetapi juga pada aksi nyata dalam menjaga kelestarian hutan secara berkelanjutan.












