GueBerita.com – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa keberadaan Sekolah Manusia Unggul (Maung) di Jawa Barat bukan untuk menciptakan jurang baru dalam dunia pendidikan.
Dalam forum Indonesia Summit 2026 yang diselenggarakan di Jakarta pada Rabu, 17 Juni 2026, Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa sekolah tersebut disiapkan sebagai wadah bagi siswa dengan kemampuan akademik tinggi. Tujuannya adalah agar mereka dapat berkembang secara maksimal dan berkompetisi dengan sesama pelajar berprestasi.
Menurut Dedi Mulyadi, konsep sekolah unggulan sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sejak lama, hampir setiap daerah di Indonesia telah memiliki sekolah yang dikenal sebagai sekolah favorit.
Ia mencontohkan di tingkat kabupaten, sekolah unggulan tersebut biasanya adalah SMA Negeri 1. Sementara itu, di Kota Bandung, SMA Negeri 3 dan SMA Negeri 5 telah lama dikenal sebagai sekolah yang banyak menampung siswa-siswa berprestasi.
“Di situ berkumpulnya anak-anak yang punya IQ yang tinggi, punya nilai akademis yang tinggi. Nah, sehingga mereka bisa berkumpul pada satu sekolah untuk berkompetisi sama-sama pinter,” ujar Dedi Mulyadi.
Ia melanjutkan penjelasannya bahwa Sekolah Maung menerapkan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang berorientasi pada kemampuan akademik peserta didik.
Menurutnya, sistem ini tidak dirancang untuk membedakan status sosial maupun ekonomi siswa. Sebaliknya, sistem ini bertujuan memberikan ruang pembelajaran yang sesuai dengan kapasitas dan potensi akademik yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik.
Dedi Mulyadi menilai bahwa kebijakan zonasi yang telah diterapkan selama beberapa tahun terakhir memang telah berhasil menciptakan keberagaman komposisi siswa di berbagai sekolah.
Dalam satu lingkungan sekolah yang sama, siswa berprestasi, siswa dengan kemampuan akademik rata-rata, hingga siswa yang memiliki persoalan kedisiplinan dapat belajar bersama.
Ia mengakui bahwa sistem zonasi memiliki peran penting dalam upaya pemerataan akses pendidikan di seluruh wilayah.
Namun di sisi lain, kebijakan tersebut juga menghadirkan tantangan tersendiri. Tantangan ini terutama dirasakan oleh siswa yang membutuhkan lingkungan belajar dengan kompetisi akademik yang lebih intensif untuk dapat mengembangkan potensi diri mereka secara optimal.






