GueBerita.com – Bulan Suro selalu identik dengan tradisi dan rasa syukur masyarakat Jawa.
Di berbagai pelosok desa, warga menggelar selamatan dan tontonan budaya sebagai ungkapan terima kasih atas rezeki setahun terakhir.
Suasana kebersamaan terasa kental saat gending wayang mengalun di pendopo dusun.
Di Tulungagung, tradisi itu dijaga lewat Bersih Dusun yang dikemas meriah namun tetap khidmat.
Pagelaran wayang kulit dipilih bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga sebagai ruang menanam nilai moral bagi warga.
Plt Bupati Tulungagung H. Ahmad Baharudin, S.M., M.M. menghadiri pagelaran wayang kulit dalam rangka Bersih Dusun Campurjanggrang, Kecamatan Campurdarat, Senin 15 Juni 2026.
Pagelaran menghadirkan dalang Ki Eko Khondo Prisdianto dengan lakon “Wahyu Sandang Pangan”. Kegiatan ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat menyambut bulan Suro sekaligus wujud syukur warga atas hasil bumi dan keselamatan selama setahun.
Dalam sambutannya, Plt Bupati Ahmad Baharudin menyampaikan terima kasih kepada tuan rumah Danang Bayu Setiawan yang telah menyelenggarakan kegiatan bersih dusun tersebut.
“Dalam memperingati bulan Suro ini, mudah-mudahan kita selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan kepada kita semua. Kita tetap guyub rukun,” ujar Ahmad Baharudin.
Ia menegaskan pagelaran wayang kulit memiliki nilai lebih dari sekadar tontonan.
“Pada malam hari ini kita tidak mencari hiburan saja, tetapi juga mencari wawasan,” kata Plt Bupati.
Lakon “Wahyu Sandang Pangan” yang dibawakan oleh Ki Eko Khondo Prisdianto sarat akan pesan moral, terutama mengenai pentingnya ketahanan pangan.
Ketahanan pangan menjadi tema sentral yang diangkat dalam pagelaran kali ini, sejalan dengan semangat bulan Suro yang identik dengan refleksi dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Pesan yang disampaikan melalui cerita wayang kulit ini diharapkan dapat meresap ke dalam benak masyarakat, mendorong mereka untuk lebih peduli terhadap ketersediaan pangan.
Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan di tingkat desa.
Tradisi Bersih Dusun ini menjadi momentum penting untuk mengingatkan kembali akan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan ketersediaan pangan.
Plt Bupati Ahmad Baharudin juga mengapresiasi peran tokoh masyarakat dan seluruh warga yang turut serta dalam pelestarian tradisi ini.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilestarikan dan dikembangkan agar nilai-nilai luhur budaya Jawa tetap terjaga.
Selain itu, kegiatan ini juga mempererat tali silaturahmi antarwarga dan meningkatkan rasa kebersamaan.
Kehadiran Plt Bupati dalam acara ini menunjukkan dukungan pemerintah terhadap pelestarian budaya lokal.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kelestarian tradisi dan kebudayaan.
Pagelaran wayang kulit ini tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga sarana edukasi dan refleksi.
Melalui lakon “Wahyu Sandang Pangan”, masyarakat diajak untuk merenungkan pentingnya ketersediaan pangan sebagai kebutuhan dasar manusia.
Pesan moral yang disampaikan diharapkan dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, tradisi Bersih Dusun di Campurdarat ini berhasil memadukan unsur hiburan, budaya, dan pesan moral yang mendalam.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi dapat terus relevan dan memberikan manfaat bagi masyarakat di era modern.
Semangat “guyub rukun” yang digaungkan Plt Bupati Ahmad Baharudin tercermin dalam suasana kebersamaan saat pagelaran berlangsung.
Semoga tradisi ini terus lestari dan memberikan keberkahan bagi masyarakat Tulungagung.






