GueBerita.com – Masyarakat Kabupaten Trenggalek kembali merayakan tradisi adat Nyadran Dam Bagong yang kaya makna, dengan prosesi Kirab Mahesa sebagai puncak rangkaiannya.
Acara ini tidak hanya menjadi wujud syukur atas berkah alam, tapi juga pengingat akan pentingnya melestarikan warisan leluhur di tengah arus modernisasi.
Prosesi Kirab Mahesa digelar di Pendopo Manggala Praja Nugraha Kabupaten Trenggalek pada Selasa (7/5).
Baca juga: Ritual Berdana Vesakha Sananda Diikuti 75 Biksu dan 10 Ribu Umat
Wakil Bupati Trenggalek, Syah Mohamad Natanegara, secara langsung menerima kesinggahan kerbau sebagai simbol utama ritual.
Ia juga menyerahkan kelengkapan penyembelihan kepada petugas yang telah ditunjuk, menandai kelanjutan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun.
Usai prosesi kirab, kerbau kemudian diarak menuju Komplek Makam Setono Bagong dan makam Ki Ageng Minak Sopal.
Di sana, dilakukan penjamasan atau penyucian kerbau sebagai persiapan rangkaian inti Nyadran Dam Bagong.
Tradisi ini khusus dilakukan oleh masyarakat, terutama petani di sekitar Sungai Bagongan, sebagai bentuk ungkapan syukur atas irigasi sawah yang melimpah.
“Alhamdulillah upacara adat ini bisa dilaksanakan setiap tahun. Harapannya ini bisa melestarikan budaya yang ada di Kabupaten Trenggalek dan juga harapannya bisa mengangkat roda perekonomian di wilayah sekitar,” ujar Wabup Syah usai melepas keberangkatan kirab.
Nyadran Dam Bagong sendiri telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak tahun 2024 oleh pemerintah setempat.
Keberlangsungan tradisi ini terus menjadi magnet wisata budaya, sekaligus mendukung perekonomian lokal melalui aktivitas sekitar acara.






