GueBerita.com – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, memaparkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh perpaduan faktor global dan domestik yang terjadi secara bersamaan.
Sepanjang perdagangan, mata uang Garuda tercatat bergerak melemah dibandingkan sejumlah mata uang di kawasan Asia. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di posisi Rp17.524 per dolar AS atau turun 110 poin setara 0,63 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Destry menjelaskan, tekanan terhadap rupiah semakin besar seiring memanasnya konflik di Timur Tengah yang hingga kini masih berlangsung dengan intensitas tinggi. Kondisi tersebut berdampak pada kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global.
Baca juga: Kolaborasi Appi dan Warga Makassar untuk Pengelolaan Sampah Unggulan
Selain faktor eksternal, tekanan juga datang dari dalam negeri. Menurutnya, permintaan terhadap dolar AS meningkat secara musiman, terutama untuk kebutuhan pembayaran utang luar negeri (ULN), pembagian dividen perusahaan, hingga kebutuhan valuta asing untuk pelaksanaan ibadah haji.
Meski rupiah mengalami tekanan, BI memastikan tetap aktif menjaga kestabilan nilai tukar. Destry menegaskan bank sentral akan melakukan smart intervention melalui pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), dan Non Deliverable Forward (NDF), sekaligus mengoptimalkan berbagai instrumen operasi moneter yang dimiliki.
Pelemahan rupiah ini turut menjadi perhatian pelaku pasar dan investor di tengah tingginya volatilitas global. Namun demikian, BI tetap optimistis mampu menjaga stabilitas kurs rupiah melalui berbagai langkah kebijakan yang telah disiapkan.






