GueBerita.com – Pelaksanaan ruwatan Desa Pagerngumbuk di Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, pada dasarnya serupa dengan tradisi di desa lain sebagai wujud rasa syukur. Rangkaian acara meliputi pengajian, ziarah ke makam leluhur, serta pagelaran wayang kulit semalam suntuk.
Namun, terdapat keunikan yang membedakan tasyakuran ruwat Desa Pagerngumbuk dari tradisi serupa. Perbedaan ini bukan terletak pada tata cara berdoa, melainkan pada metode penyajian hidangan.
Baca juga: Lirik Lagu ACAI CORTIS dari Mini Album GREENGREEN
Selain puluhan porsi nasi kuning, tersaji pula belasan tumpeng berukuran raksasa yang diisi dengan hasil bumi. Keunikan utama terletak pada cara penyajian makanan di atas puluhan ‘amben’ atau tempat tidur bambu, yang sekilas menyerupai keranda jenazah.
Makanan tersebut ditata memanjang dan ditutup dengan kain jarik atau batik. Selanjutnya, puluhan amben yang berisi hidangan tersebut diarak oleh warga menuju balai desa pada Minggu pagi, 17 Mei.
Setibanya di balai Desa Pagerngumbuk, puluhan amben yang berdatangan tersebut dijejerkan di sisi kanan dan kiri pendopo balai desa. Seluruh warga desa telah berkumpul, menantikan dimulainya acara tasyakuran.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sidoarjo, H. Subandi, turut hadir di tengah-tengah masyarakat. Pihak Desa Pagerngumbuk menyambut kedatangan bupati dengan cara yang khas.
Tokoh Hanoman dan perwakilan petani didapuk untuk mengantarkan bupati menuju balai desa. Bupati Sidoarjo, H. Subandi, memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan ruwatan desa semacam ini.
Menurut beliau, tradisi ini merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang memiliki tujuan mulia. Tujuannya adalah untuk mengekspresikan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil bumi yang telah dianugerahkan.






