SDN 2 Cepoksawit Boyolali Gelar MPLS dengan Satu Murid Baru

Viral3 Views

GueBerita.com – SDN 2 Cepoksawit, yang berlokasi di Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, telah memulai rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) untuk tahun ajaran baru. Uniknya, sekolah ini hanya menerima satu murid baru pada tahun ini.

Meskipun demikian, pihak sekolah menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam menyambut satu-satunya murid baru tersebut. Tujuannya adalah agar siswa baru ini tetap merasakan pengalaman hari pertama sekolah yang berkesan dan menyenangkan.

Andriyani Mudrikah, yang menjabat sebagai wali kelas 1, menjelaskan bahwa pihak sekolah telah berupaya keras untuk menjaring peserta didik baru. Berbagai strategi telah dilancarkan demi mencapai target penerimaan siswa.

Tim pengajar dari SDN 2 Cepoksawit secara aktif mendatangi sejumlah Taman Kanak-kanak (TK) yang berada di desa-desa sekitar. Tujuannya adalah untuk melakukan sosialisasi mengenai keberadaan dan keunggulan sekolah mereka.

Namun, tantangan dihadapi karena jumlah lulusan TK di wilayah tersebut memang tergolong minim. Rata-rata, setiap tahunnya hanya terdapat sekitar empat hingga lima anak yang lulus dari jenjang TK di area tersebut.

Selain melakukan sosialisasi langsung ke lembaga pendidikan anak usia dini, SDN 2 Cepoksawit juga menerapkan strategi proaktif yang dikenal sebagai “jemput bola”. Pendekatan ini melibatkan kunjungan langsung ke rumah-rumah calon siswa.

Bahkan, untuk satu-satunya murid baru yang berhasil diterima tahun ini, pihak sekolah melakukan kunjungan intensif. Murid tersebut didatangi hingga tiga hingga empat kali oleh perwakilan sekolah. Harapannya adalah untuk semakin meyakinkan orang tua dan anak agar mantap memilih SDN 2 Cepoksawit sebagai tempat menimba ilmu.

Saat ini, total keseluruhan siswa yang terdaftar di SDN 2 Cepoksawit adalah 25 orang. Jumlah ini mencakup seluruh jenjang pendidikan, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6.

Kelas yang memiliki jumlah siswa terbanyak adalah kelas 6. Jenjang ini dihuni oleh delapan orang murid, menjadikannya kelas dengan partisipasi siswa paling tinggi di sekolah tersebut.

Meskipun menghadapi keterbatasan jumlah peserta didik, pihak sekolah menegaskan komitmennya. Proses belajar mengajar dipastikan akan tetap berjalan secara optimal. Hal ini dilakukan demi memberikan layanan pendidikan terbaik yang dapat diakses oleh seluruh siswa yang ada.