Mengapa Makanan Tertentu Meredakan Stres? Sejarah dan Makna di Balik Comfort Food

Lifestyle2 Views

GueBerita.com – Ketika beban hidup terasa berat, tubuh dan pikiran kita sering kali mendambakan jenis makanan tertentu. Pernahkah Anda merasa jauh lebih tenang setelah menyantap sepiring nasi goreng hangat atau semangkuk bakso saat sedang lelah?

Fenomena kuliner ini akrab disebut sebagai comfort food, sebuah istilah global yang kini digunakan untuk menggambarkan makanan penenang jiwa. Namun, bagaimanakah awal mula istilah ini berkembang hingga menjadi bagian dari gaya hidup modern?

Secara harfiah, comfort food merujuk pada hidangan yang tidak sekadar mengenyangkan perut, melainkan juga mampu memberikan kenyamanan emosional serta memicu memori sensorik yang membahagiakan.

Berdasarkan data dari MBRF Ingredients, makanan yang masuk dalam kategori ini umumnya memiliki cita rasa, tekstur, atau aroma yang sudah sangat akrab di lidah. Keakraban sensorik inilah yang kemudian memicu perasaan aman dan damai.

Karena sifatnya yang sangat personal, setiap individu pasti memiliki menu comfort food yang berbeda. Bagi masyarakat Indonesia, bentuknya bisa sangat sederhana, mulai dari masakan rumah buatan ibu hingga camilan masa kecil.

Meski belakangan ini kembali tren di media sosial, istilah comfort food sebenarnya sudah lahir sejak puluhan tahun lalu. Menurut catatan The Daily Meal, frasa ini pertama kali tercatat dalam sebuah artikel surat kabar Palm Beach Post pada tahun 1966.

Artikel tersebut menyoroti bagaimana orang dewasa yang sedang menghadapi tekanan sosial maupun emosional cenderung mencari pelarian lewat makanan yang familiar. Mengonsumsi makanan yang mengingatkan mereka pada masa kecil atau momen bahagia terbukti efektif mengurangi ketegangan psikologis.

Popularitas istilah ini kian meroket pada dekade berikutnya. Melansir JSTOR Daily, seorang aktris legendaris bernama Liza Minnelli turut andil dalam mempopulerkan frasa ini ke masyarakat luas.

Dalam sebuah wawancara dengan kolumnis makanan Johna Blinn pada tahun 1970, Minnelli menggambarkan comfort food sebagai makanan yang membuat kita merasa puas dan ingin terus menikmatinya.

Fungsi makanan di era modern kini telah bergeser melampaui pemenuhan nutrisi fisik belaka. Menikmati makanan terasa kurang lengkap jika tidak dikaitkan dengan ikatan emosi dan memori masa lalu.

Aroma masakan tertentu kerap bertindak sebagai mesin waktu yang membawa ingatan kita kembali pada momen berharga bersama keluarga atau pengalaman spesial lainnya. Oleh karena itu, sangat wajar jika hidangan yang sudah akrab di lidah mampu memberikan efek terapeutik.

Efek tersebut seperti memicu ketenangan atau membantu seseorang melupakan kepenatan hidup sejenak saat menyantapnya.