BRIN Meminta Maaf Akibat Unggah Ilustrasi Garuda Buatan AI yang Salah

Nasional5 Views

GueBerita.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru-baru ini menjadi sorotan publik akibat unggahan konten peringatan Hari Lahir Pancasila di media sosial yang menampilkan ilustrasi lambang negara, Garuda Pancasila, dengan sejumlah kekeliruan. Ilustrasi yang diduga dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) ini menuai kritik tajam dari masyarakat.

Warganet yang jeli segera mengidentifikasi ketidakakuratan fatal dalam gambar tersebut. Perhatian utama tertuju pada jumlah bulu burung Garuda yang tidak sesuai dengan ketentuan resmi yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.

Baca juga: Operasi Patuh 2026 Dimulai 8 Juni, Fokus Tilang Elektronik dan Pelat Nomor Palsu

Berdasarkan peraturan perundang-undangan, lambang negara memiliki makna filosofis terkait tanggal kemerdekaan Republik Indonesia. Angka-angka tersebut mencakup 45 helai bulu di leher, 17 helai pada masing-masing sayap, 8 helai pada ekor, dan 19 helai di bawah perisai yang melambangkan pangkal ekor.

Namun, dalam ilustrasi yang diunggah BRIN, netizen menemukan bahwa seluruh hitungan tersebut tidak sesuai. Kritik keras pun mengalir, mengingat BRIN sebagai lembaga ilmiah seharusnya menjunjung tinggi prinsip ketelitian, verifikasi, dan validasi dalam setiap konten yang mereka buat, terutama yang berkaitan dengan simbol negara.

Menanggapi kegaduhan dan kritik yang meluas di ranah digital, pihak BRIN merespons dengan cepat. Mereka segera menghapus konten yang bermasalah tersebut dan mengeluarkan pernyataan resmi untuk memohon maaf kepada publik. Pernyataan tersebut menegaskan kesadaran BRIN akan kesalahan yang telah terjadi.

“BRIN Indonesia menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan dalam tayangan konten peringatan Hari Lahir Pancasila yang telah kami bagikan. Hal ini menjadi pelajaran bagi kami untuk lebih teliti, cermat, dan berhati-hati dalam proses pembuatan serta penyebaran konten di masa mendatang. Sebagai bentuk tanggung jawab dan evaluasi internal, konten tersebut telah kami perbaiki. Kami menghaturkan terima kasih atas perhatian, masukan, dan kontrol dari seluruh lapisan masyarakat kepada BRIN,” demikian bunyi pernyataan resmi BRIN.

Peristiwa ini tidak hanya berujung pada permintaan maaf dari BRIN, tetapi juga memicu diskusi yang lebih luas di ruang digital. Diskusi tersebut berfokus pada batasan penggunaan teknologi AI dan pentingnya pengawasan manusia (human oversight) dalam proses kreatif, terutama ketika menyangkut konten yang berkaitan dengan identitas nasional dan simbol negara.

Masyarakat secara luas mengingatkan bahwa dalam pembuatan konten yang menyangkut simbol, identitas resmi, dan sejarah bangsa, akurasi serta pemeriksaan dokumen yang ketat harus selalu menjadi prioritas utama. Hal ini penting untuk mencegah terulangnya kesalahan serupa di masa mendatang dan menjaga marwah simbol-simbol negara.