Pelatihan Singkat: Penghulu Dibekali Fikih Kontemporer dan Bahasa Asing

Nasional9 Views

GueBerita.com – Peran seorang penghulu di Indonesia kini telah berkembang pesat, melampaui sekadar tugas utama dalam prosesi ijab kabul.

Menyesuaikan diri dengan dinamika zaman dan ragam karakter masyarakat yang semakin kompleks, Kementerian Agama berupaya membekali para penghulu dengan wawasan yang lebih luas dan mendalam.

Pemberian bekal kemampuan berbahasa asing, serta keterampilan dalam menjalin komunikasi lintas budaya, menjadi aspek baru yang krusial. Tujuannya adalah agar Kantor Urusan Agama (KUA) tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pencatatan pernikahan semata, melainkan bertransformasi menjadi pusat layanan keagamaan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern.

Dalam rangka mewujudkan visi tersebut, Kementerian Agama telah menyelenggarakan sebuah program pelatihan intensif yang dikenal sebagai Short Course Penguatan Kapasitas Penghulu dan Pejabat Kepenghuluan.

Pelatihan ini dirancang secara komprehensif untuk membekali para peserta dengan berbagai keahlian esensial, meliputi kemampuan berbahasa asing, pemahaman mendalam mengenai komunikasi lintas budaya, penguasaan fikih munakahat baik dalam perspektif klasik maupun kontemporer, serta literasi digital yang krusial di era digital ini.

Program pelatihan ini diikuti oleh 50 orang penghulu dan pejabat kepenghuluan yang terpilih. Sebagai narasumber utama, Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Bapak Ahmad Zayadi, hadir untuk menyampaikan arah kebijakan Kementerian Agama terkait penguatan kapasitas para penghulu.

Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan di Kota Bandung, Jawa Barat, pada periode 9 hingga 12 Juni 2026. Penjelasan mendalam dari Bapak Ahmad Zayadi disampaikan pada hari Rabu, tanggal 10 Juni 2026, yang berpusat di salah satu lokasi di Bandung.

Posisi penghulu kini diemban sebagai mitra strategis bagi masyarakat dan pelayan umat yang aktif. Perubahan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang menuntut para penghulu untuk senantiasa memperbarui pengetahuan dan keterampilan mereka agar layanan yang diberikan oleh KUA tetap relevan dan efektif.

Melalui program pelatihan singkat ini, para peserta dibekali dengan berbagai materi penting, mulai dari aspek kepenghuluan itu sendiri, penguasaan bahasa asing yang menjadi nilai tambah, pendalaman fikih munakahat, hingga strategi komunikasi lintas budaya dan peningkatan literasi digital.

Transformasi KUA diarahkan untuk menjadi sebuah ruang multifungsi yang dapat menampung berbagai kepentingan dan kebutuhan masyarakat, tidak terbatas hanya pada fungsi pencatatan pernikahan seperti yang umum diketahui.

Dalam salah satu sesi pembukaan wacana, Bapak Ahmad Zayadi secara tegas menyampaikan urgensi dari penyelenggaraan pelatihan ini. “Kenapa kita berkumpul dan mengumpulkan penghulu dalam pelatihan ini? Karena jabatan kita ditugaskan sebagai mitra strategis, sebagai pelayan umat sekaligus mitra strategis umat,” ujar Zayadi di Bandung, Rabu (10/6/2026).

Beliau menambahkan, “Umat yang kita layani terus berubah. Karena itu, penghulu harus memperbarui pengetahuan dan keterampilan agar layanan KUA semakin relevan,” katanya, menekankan pentingnya adaptasi dan peningkatan kapasitas berkelanjutan bagi para penghulu.