Kepala Sekolah Berani Keluar Zona Nyaman demi Sekolah Rakyat

Pendidikan19 Views

GueBerita.com – Rifki Hakim membuat sebuah keputusan monumental dengan meninggalkan kesempatan untuk menjadi kepala sekolah di institusi pendidikan reguler. Ia memilih untuk mendedikasikan dirinya memimpin Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 9 Banjarbaru, Kalimantan Selatan, sebuah langkah yang didasari keyakinan mendalam bahwa kemajuan pendidikan melampaui sekadar status atau jabatan.

Kini, Rifki yang dikenal dengan keramahan dan senyumnya yang tulus, sangat aktif terlibat dalam mendampingi para siswa di SRT 9 Banjarbaru. Setiap pagi, ia menyambut dan berinteraksi hangat dengan para murid. Kehadirannya di lapangan upacara selalu disambut antusiasme siswa yang bergegas menghampirinya untuk bersalaman, menunjukkan rasa hormat mereka.

Keputusan untuk bergabung dengan Sekolah Rakyat bukanlah jalan yang mudah bagi Rifki. Ia sempat bergulat dengan keraguan dan dilema yang signifikan. Situasi ini timbul ketika ia dihadapkan pada dua pilihan krusial: menjadi kepala di sekolah berasrama gratis yang merupakan gagasan dari Presiden Prabowo Subianto, atau mengambil posisi sebagai kepala di salah satu sekolah reguler di Kalimantan Selatan.

“Ada dilema di situ. Ada dilema yang membuat saya agak ragu-ragu (menjadi Kepala Sekolah Rakyat),” ungkap Rifki saat ditemui di ruang kerjanya di SRT 9 Banjarbaru, sebagaimana dikutip pada Senin, 25 Mei 2026. Perasaan ini muncul karena ketidakpastian dan tantangan yang melekat pada peran barunya.

Baca juga: Dinas Pendidikan Jatim Dukung JMSI, Siap Kolaborasi Bahas Pendidikan Jatim

Perjalanan Rifki menuju SRT 9 Banjarbaru dimulai ketika ia menerima informasi melalui telepon dari Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan. Namanya tercatat sebagai salah satu dari 35 calon Kepala Sekolah Rakyat yang diseleksi. Proses seleksi ini tidaklah ringan, melibatkan pengumpulan berkas yang cermat, wawancara mendalam, tes psikologi, hingga ujian kemampuan Bahasa Inggris dalam bentuk tes TOEFL.

Pria kelahiran Banjarnegara ini berhasil melewati seluruh tahapan seleksi. Ia kemudian diundang untuk mengikuti retret di Jakarta, sebuah tahapan penting dalam proses rekrutmen. Di saat yang bersamaan, ia juga menerima panggilan untuk melengkapi berkas administrasi yang diperlukan untuk pencalonannya sebagai kepala sekolah di salah satu sekolah reguler di Kalimantan Selatan, yang semakin memperdalam dilemanya.

Dilema ini tidak hanya dirasakan oleh Rifki sendiri, tetapi juga merambah ke lingkungan keluarganya. Ibunya, yang memiliki latar belakang sebagai seorang guru dan pernah menjabat sebagai kepala sekolah, juga turut merasakan kebimbangan ini. Profesi orang tuanya sebagai pendidik menempatkan ekspektasi tertentu pada Rifki. Koleganya pun tak luput dari pertanyaan mengenai keputusannya untuk bergabung dengan Sekolah Rakyat, mengingat status sekolah berasrama tersebut yang belum banyak dikenal luas.

Meskipun dihadapkan pada keraguan dan pertentangan dari berbagai pihak, Rifki tetap teguh pada pendiriannya. Ia melihat adanya potensi besar dan panggilan jiwa untuk berkontribusi di tempat yang membutuhkan sentuhan kepemimpinan yang berbeda. Keputusannya ini mencerminkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman demi sebuah misi pendidikan yang lebih luas dan berdampak.