Kepala Sekolah Berani Tinggalkan Zona Nyaman Demi Mengabdi di Sekolah Rakyat

Pendidikan21 Views

GueBerita.com – Rifki Hakim membuat keputusan monumental ketika ia memilih untuk meninggalkan kesempatan menjadi kepala sekolah di institusi reguler demi mengabdikan diri di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 9 Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Langkah ini diambil atas dasar keyakinan kuatnya bahwa kemajuan pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh status atau posisi.

Rifki, yang dikenal dengan keramahan dan senyumnya yang tulus, kini terlibat aktif dalam mendampingi para siswa di SRT 9 Banjarbaru.

Baca juga: Liverpool Terancam Gagal ke Liga Champions Musim Depan

Setiap pagi, ia dapat disaksikan menyapa dan berinteraksi dengan para murid. Ketika ia hadir di lapangan upacara, para siswa segera mengerumuninya untuk bersalaman dengan penuh rasa hormat.

Keputusan untuk bergabung dengan Sekolah Rakyat bukanlah perkara mudah bagi Rifki. Ia sempat dilanda keraguan dan dilema ketika dihadapkan pada dua opsi: menjadi kepala sekolah di sebuah sekolah gratis berasrama yang merupakan gagasan Presiden Prabowo Subianto, atau mengambil posisi kepala di salah satu sekolah reguler di Kalimantan Selatan.

“Ada dilema di situ. Ada dilema yang membuat saya agak ragu-ragu (menjadi Kepala Sekolah Rakyat),” ujar Rifki saat ditemui di ruang kerjanya di SRT 9 Banjarbaru, sebagaimana dikutip pada Senin, 25 Mei 2026.

Awalnya, Rifki menerima informasi melalui panggilan telepon dari Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan bahwa namanya termasuk dalam daftar 35 calon Kepala Sekolah Rakyat.

Ia kemudian segera mengumpulkan berkas yang diperlukan dan menjalani serangkaian proses seleksi, yang meliputi wawancara, psikotes, hingga tes Bahasa Inggris TOEFL.

Pria yang lahir di Banjarnegara ini berhasil lolos seleksi dan kemudian mengikuti kegiatan retret di Jakarta. Tak lama berselang, ia juga menerima pemberitahuan untuk melengkapi berkas administrasi pendaftaran sebagai calon kepala sekolah di salah satu sekolah reguler di Kalimantan Selatan.

Dilema juga datang dari pihak keluarga, termasuk ibunya. Rifki adalah anak kedua dari tiga bersaudara, yang orang tuanya berprofesi sebagai pendidik. Jabatan terakhir ibunya bahkan adalah sebagai kepala sekolah.

Koleganya pun turut mempertanyakan niatnya untuk bergabung dengan Sekolah Rakyat, mengingat status sekolah berasrama tersebut belum banyak dikenal publik.