Nobar “Pesta Babi” di Makassar: Bagikan Puluhan Bibit Pohon sebagai Aksi Nyata

GueBerita.com – Sebuah inisiatif menarik lahir dari pemutaran film dokumenter “Pesta Babi” di Makassar. Acara nonton bareng (nobar) yang diselenggarakan di Makassar Creative Hub pada 6 Mei 2026 ini tidak hanya menjadi wadah diskusi, tetapi juga aksi nyata untuk pelestarian lingkungan. Puluhan bibit pohon dibagikan kepada para peserta sebagai bentuk kepedulian terhadap hutan dan masyarakat adat.

Tradisi “Pesta Babi” sendiri merupakan ritual adat yang sangat penting bagi suku Muyu di Papua. Dalam bahasa asli mereka, Awon Atatbon, pesta ini memiliki makna mendalam untuk mempererat tali persaudaraan dan hubungan antar suku. Dalam pelaksanaannya, hewan babi yang dipelihara dengan baik dan bahkan diberi nama satu per satu disembelih sebagai simbol kekayaan dan kehormatan.

Namun, film dokumenter yang disutradarai oleh Dandhy Laksono ini mengangkat sisi lain dari “Pesta Babi”. Film ini menceritakan kisah pilu masyarakat adat Marind, Awyu, Yei, dan Muyu yang terancam kehilangan tanah dan ruang hidup mereka. Ekspansi besar-besaran untuk proyek perkebunan tebu, kelapa sawit, hingga food estate menjadi penyebab utama tergerusnya hutan adat.

Karya Dandhy Laksono ini menjadi perbincangan hangat di seluruh Indonesia karena menggambarkan secara gamblang bagaimana hutan adat yang luas, mencapai lebih dari 2 juta hektar, dibabat habis untuk kepentingan bioetanol dan ketahanan pangan. Dampaknya sangat dahsyat, tidak hanya hilangnya fungsi ekologis hutan, tetapi juga punahnya ekosistem di dalamnya.

Akibatnya, masyarakat adat setempat merasa terusir dari tanah leluhur mereka sendiri. Sebagai bentuk penolakan dan protes terhadap perusahaan serta penguasaan lahan yang merusak, mereka memasang “salib merah” di wilayah mereka.

Film ini juga tidak luput menyoroti dugaan tindakan militerisasi yang dilakukan oleh oknum TNI. Tindakan ini diduga dilakukan demi mengamankan proyek-proyek investasi yang sedang berjalan di Papua, yang seringkali berbenturan dengan hak-hak masyarakat adat.

Baca juga: Gerakan Tanam Pohon Berkelanjutan di Kawasan Strategis Bandung

Dengan durasi 95 menit, film “Pesta Babi” menggunakan istilah tersebut sebagai sebuah metafora. Judul ini ingin menyampaikan pesan bahwa kerusakan hutan yang masif tidak hanya mengancam keberlangsungan lingkungan, tetapi juga dapat mengikis bahkan menghilangkan identitas budaya masyarakat adat yang bergantung pada kelestarian hutan.

Pemutaran film ini memang tidak terlepas dari kontroversi. Berbagai penolakan dan pembubaran paksa sempat terjadi di beberapa lokasi penayangan. Hal ini dikarenakan adanya persepsi dari sebagian kalangan penguasa bahwa judul film tersebut dinilai provokatif.

Meskipun demikian, semangat untuk menyebarkan pesan dalam film ini tidak padam. Pemutaran film “Pesta Babi” terus berlanjut di berbagai kota di Indonesia. Salah satunya adalah di Makassar, Sulawesi Selatan, yang bertempat di Makassar Creative Hub. Acara nonton bareng yang diselenggarakan pada 6 Mei 2026 ini berhasil menarik perhatian banyak warga.

Dengan fasilitas amphytheatre yang dimiliki Makassar Creative Hub, film “Pesta Babi” dapat ditayangkan dengan kualitas gambar yang lebar, jernih, dan audio yang sangat baik. Tempat yang bersih ini, yang merupakan ruang ekspresi gratis bagi masyarakat Makassar yang disediakan oleh Pemerintah Kota Makassar, menjadi saksi bisu dari diskusi dan kepedulian yang terbangun.

Acara ini kemudian beranjak dari sekadar menonton film menjadi sebuah aksi nyata. Pembagian puluhan bibit pohon kepada para peserta menjadi simbol harapan untuk masa depan yang lebih hijau. Langkah kecil ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian hutan dan mendukung hak-hak masyarakat adat yang seringkali terpinggirkan.