GueBerita.com – Kisah pilu datang dari Danil, seorang siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) berusia 19 tahun. Kehidupan yang penuh perjuangan harus ia jalani setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, ayah pada tahun 2018 dan ibu pada tahun 2025. Kini, Danil memikul tanggung jawab penuh sebagai tulang punggung keluarga untuk kedua adiknya, Rizkya yang berusia 12 tahun dan Siti yang berusia 10 tahun.
Demi memenuhi kebutuhan pokok dan biaya pendidikan adik-adiknya, Danil rela melakoni berbagai pekerjaan sepulang sekolah. Salah satu pekerjaannya adalah menjadi guru ngaji di sebuah masjid, dengan upah yang diterimanya sebesar Rp20.000 setiap hari. Pendapatan ini tentu saja sangat terbatas untuk menopang kebutuhan keluarga.
Selain menjadi guru ngaji, Danil juga bekerja sebagai buruh pemanjat pohon kelapa. Pekerjaan ini memiliki penghasilan yang tidak menentu, namun ia tetap menjalaninya dengan gigih. Aktivitas memanjat pohon kelapa merupakan pekerjaan fisik yang cukup berat dan berisiko.
Kondisi ini sangat mengkhawatirkan mengingat Danil memiliki riwayat penyakit jantung. Secara medis, aktivitas fisik berat seperti memanjat pohon kelapa seharusnya dihindari oleh penderita gangguan jantung. Namun, tuntutan ekonomi yang mendesak memaksanya untuk mengabaikan risiko kesehatan demi memastikan adik-adiknya tetap bisa makan.
Danil mengungkapkan kepeduliannya yang mendalam terhadap adik-adiknya, “Tidak apa saya tidak makan, yang penting adik saya bisa makan,” ujarnya dengan penuh pengorbanan. Perkataan ini mencerminkan betapa besar tanggung jawab dan kasih sayang yang ia miliki terhadap keluarganya.
Tantangan yang dihadapi keluarga ini tidak hanya berhenti pada pemenuhan kebutuhan pangan. Adik bungsunya, Siti, diketahui menderita asma akut. Penyakit ini memerlukan biaya pengobatan yang rutin, dengan perkiraan sekitar Rp70.000 setiap kali kambuh. Anggaran ini seringkali sulit untuk dipenuhi mengingat pendapatan Danil yang sangat terbatas.
Selain masalah kesehatan dan pangan, kondisi rumah yang ditinggali keluarga ini juga memprihatinkan. Mereka menempati rumah peninggalan orang tua yang kondisinya dilaporkan mulai rusak. Kerusakan paling signifikan terlihat pada bagian atap yang bocor ketika hujan turun, menambah beban dan ketidaknyamanan dalam kehidupan sehari-hari.
Keluarga ini juga dihadapkan pada ancaman serius lainnya, yaitu pemutusan aliran listrik. Mereka memiliki tunggakan pembayaran listrik selama dua bulan terakhir, yang berpotensi menyebabkan pemadaman listrik jika tidak segera diselesaikan.
Baca juga: Perluasan Transportasi dan Akomodasi untuk Dukung Konser BTS oleh Pemkot Busan
Kisah perjuangan Danil ini telah menarik perhatian luas dari para pengguna media sosial. Banyak netizen yang merasa tersentuh dan prihatin dengan kondisi yang dialami oleh anak yatim piatu ini. Melalui berbagai platform, muncul seruan dan kepedulian yang menyoroti pentingnya adanya bantuan perlindungan sosial bagi anak-anak yang berada dalam kondisi ekonomi rentan, terutama mereka yang kehilangan orang tua.






