Jepang Integrasikan Taksi Terbang ke Destinasi Wisata Unggulan
GueBerita.com – Jepang kini tengah bersiap memasuki era baru mobilitas perkotaan melalui pengembangan layanan taksi terbang yang diproyeksikan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2028. Sebanyak 15 perusahaan besar di Jepang telah membentuk aliansi strategis untuk merumuskan ekosistem transportasi udara ini, mulai dari model bisnis yang berkelanjutan hingga pembangunan infrastruktur pendukung di destinasi wisata utama.
Fokus utama dari inisiatif ini akan menyasar kawasan Kansai, khususnya prefektur Osaka dan Kyoto. Wilayah tersebut dipilih karena potensi pariwisatanya yang tinggi, sehingga diharapkan mampu mendorong permintaan masyarakat terhadap moda transportasi udara generasi terbaru ini.
Teknologi dan Kolaborasi Industri
Dalam proyek ini, armada yang direncanakan untuk digunakan adalah kendaraan udara ringkas hasil pengembangan SkyDrive Inc, sebuah startup asal Toyota, Prefektur Aichi. Kendaraan ini memiliki keunggulan teknis berupa kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal (eVTOL), sehingga tidak memerlukan landasan pacu konvensional yang memakan banyak ruang.
Secara teknis, alat transportasi bertenaga baterai ini dirancang dengan kapasitas satu pilot dan dua penumpang. Keseriusan pengembangan teknologi ini telah dibuktikan melalui serangkaian uji terbang dan demonstrasi yang sukses dilakukan pada perhelatan World Expo Osaka 2025.
Pihak MUFG Bank, yang menjadi salah satu motor penggerak kolaborasi ini, menyatakan bahwa penggunaan mobil terbang kini telah memasuki fase krusial. “Setelah Osaka-Kansai Expo, penggunaan mobil terbang kini beralih dari fase demonstrasi dan pengembangan teknologi menuju babak baru pengoperasian di tengah-tengah masyarakat,” jelas perwakilan MUFG Bank dalam keterangan resminya.
Selain MUFG Bank, aliansi ini melibatkan berbagai entitas lintas sektor, di antaranya:
Tantangan Infrastruktur dan Rencana Masa Depan
Para korporasi yang tergabung dalam konsorsium ini dijadwalkan akan mengadakan pertemuan rutin untuk membahas detail teknis operasional. Beberapa poin krusial yang menjadi agenda pembahasan meliputi pembangunan stasiun pengisian daya, penetapan struktur tarif yang kompetitif, serta pembangunan vertiport—fasilitas khusus untuk pendaratan dan lepas landas taksi terbang.
Langkah konkret selanjutnya direncanakan terjadi pada musim panas tahun depan, di mana para pemangku kepentingan akan memutuskan rencana pembentukan perusahaan patungan yang nantinya bertindak sebagai operator resmi layanan tersebut.
Shin Kitamura, pejabat eksekutif senior MUFG Bank, menegaskan komitmen pihaknya dalam mendukung transisi moda transportasi ini. “Kami ingin menjajaki bagaimana cara untuk mengembangkan infrastruktur transportasi baru itu,” ujar Kitamura dalam konferensi pers di Osaka pada awal Oktober lalu.
Meski peta jalan pemerintah Jepang menargetkan komersialisasi penuh pada rentang waktu 2027-2028, sejumlah tantangan masih membayangi. Pihak SkyDrive mengakui bahwa keterbatasan lahan di wilayah perkotaan untuk membangun vertiport menjadi hambatan utama dalam memperluas cakupan operasional.
Persaingan Maskapai dalam Transportasi Udara
Upaya menghadirkan layanan taksi terbang tidak hanya dilakukan oleh konsorsium tersebut. Maskapai penerbangan besar di Jepang juga mulai melirik potensi pasar ini dengan menggandeng mitra global:
Sementara itu, ANA Holdings memilih jalur kemitraan strategis dengan Joby Aviation Inc, pengembang pesawat listrik asal Amerika Serikat yang juga mendapatkan dukungan investasi dari Toyota Motor Corp. Kehadiran berbagai pemain besar ini menunjukkan optimisme industri terhadap masa depan transportasi udara sebagai solusi mobilitas di Jepang.









