Jejak 5 Jurnalis di Selat Sunda dan Refleksi Retno Pinasti akan Jurnalisme Era AI

News6 Views

GueBerita.com – Tragedi hilangnya lima jurnalis bersama tiga awak kapal KM Arupadatu I di perairan Selat Sunda menyisakan duka mendalam sekaligus menjadi pengingat keras akan risiko tinggi dalam profesi kewartawanan. Peristiwa yang terjadi di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau ini bukan sekadar kehilangan personel, melainkan hilangnya sosok-sosok yang memegang teguh prinsip jurnalisme lapangan di tengah era digital yang serba otomatis.

Ketua Forum Pemimpin Redaksi (Pemred), Retno Pinasti, memberikan penghormatan tertinggi kepada para jurnalis tersebut dalam acara Doa Bersama dan Solidaritas yang digelar di Gedung Dewan Pers, Jakarta, pada Senin, 21 September 2026. Ia menegaskan bahwa dedikasi yang ditunjukkan oleh kelima jurnalis tersebut merupakan bentuk pengabdian paripurna yang sangat relevan di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Dalam sambutannya, Retno menyoroti bagaimana disrupsi teknologi saat ini menciptakan tantangan baru bagi dunia pers. Di saat AI mampu memproduksi berbagai bentuk visual, gambar, bahkan informasi yang rentan terhadap manipulasi atau hoaks, kehadiran jurnalis yang terjun langsung ke lapangan menjadi sangat krusial.

“Kelima teman kita memilih untuk berjuang bahkan mempertaruhkan keselamatannya untuk mendapatkan fakta dan bukti dari sebuah peristiwa, dari sebuah bencana untuk disampaikan kepada publik,” ungkap Retno, dikutip Rabu, 23 September 2026.

Menurut pandangan Retno, pilihan para jurnalis tersebut untuk tetap berpegang pada metode peliputan berbasis fakta lapangan di tengah kemudahan teknologi merupakan bukti nyata integritas profesi. Mereka tidak memilih jalan pintas yang dihasilkan oleh algoritma, melainkan menempuh risiko nyata demi memastikan kebenaran informasi sampai ke tangan masyarakat.

Peristiwa ini berawal dari tugas peliputan di kawasan Gunung Anak Krakatau yang dikenal memiliki karakteristik geologis dinamis. Gunung berapi ini sendiri memiliki sejarah panjang yang cukup kompleks, terutama pasca peristiwa keruntuhan besar pada tahun 2018 yang sempat memicu tsunami di wilayah pesisir Selat Sunda. Hingga saat ini, aktivitas vulkanik di wilayah tersebut masih terus dipantau karena pembentukan kembali tubuh gunung yang terus berlangsung.

Proses pencarian terhadap KM Arupadatu I beserta seluruh penumpang di dalamnya telah dilaksanakan secara intensif oleh tim gabungan. Namun, setelah melakukan upaya pencarian selama 10 hari, operasi SAR resmi dinyatakan berakhir dan dihentikan pada 17 September 2026 karena hasil yang belum membuahkan titik terang.

Kepergian mereka meninggalkan duka tidak hanya bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga bagi komunitas pers nasional. Retno Pinasti menyampaikan simpati yang mendalam kepada keluarga korban dan seluruh rekan sejawat yang turut merasakan kehilangan atas musibah ini.

Refleksi Jurnalisme di Era Digital

  • Integritas Fakta: Di tengah banjir informasi palsu, verifikasi lapangan tetap menjadi pilar utama kredibilitas media.
  • Risiko Profesi: Meliput wilayah bencana seperti kawasan vulkanik memerlukan persiapan matang dan kepatuhan terhadap protokol keselamatan yang ketat.
  • Solidaritas Pers: Peristiwa ini memperkuat pentingnya dukungan komunitas pers dalam menghadapi tantangan keselamatan jurnalis saat bertugas di garda terdepan.

Kejadian di Selat Sunda ini menjadi catatan penting bagi seluruh insan media di Indonesia. Bahwa di balik kemajuan teknologi yang mempermudah penyebaran informasi, nilai dasar jurnalisme yang berakar pada keberanian, ketepatan, dan kehadiran fisik di lokasi peristiwa tetap tidak tergantikan oleh mesin apa pun.