GueBerita.com – Sebuah insiden membahayakan terjadi di perairan Pangandaran, Jawa Barat, ketika sebuah kapal tongkang yang membawa muatan batu bara mengalami kebocoran.
Tongkang tersebut diketahui mengangkut sekitar 80.000 pon atau setara dengan 40 ton batu bara. Muatan berharga ini rencananya akan dibawa dari Palembang menuju Cilacap, Jawa Tengah.
Namun, di tengah perjalanan, lambung kanan tongkang mengalami kerusakan yang cukup serius. Kerusakan ini berujung pada masuknya air laut ke dalam badan kapal.
Akibatnya, sebagian besar muatan batu bara dilaporkan tumpah ke laut. Kejadian ini tentu menimbulkan kekhawatiran akan dampak lingkungan di perairan tersebut.
Peristiwa bermula ketika salah satu pintu yang berada di lambung kanan tongkang mengalami kerusakan. Kerusakan ini terjadi saat kapal masih berada di tengah pelayaran.
Masuknya air laut ke dalam kapal menyebabkan keseimbangan tongkang terganggu secara signifikan. Posisi kapal pun menjadi semakin miring.
Untuk mencegah risiko terburuk, yaitu kapal tenggelam, awak kapal terpaksa mengambil keputusan sulit. Mereka memutuskan untuk melakukan pendamparan darurat.
Pendamparan darurat ini dilakukan di kawasan Pantai Sukaresik, yang terletak di Desa Sidamulih, Kabupaten Pangandaran. Insiden ini terjadi pada hari Selasa, 16 Juni 2026, sekitar pukul 15.00 WIB.
Kondisi kapal dilaporkan terus memburuk sejak kebocoran pertama kali terjadi. Situasi ini memaksa awak kapal untuk segera bertindak.
Dua hari setelah kejadian awal, dampak dari tumpahan batu bara mulai terlihat jelas. Laporan yang diterima menyebutkan bahwa warna air laut di beberapa titik pesisir berubah menjadi hitam pekat.
Kondisi terparah dari perubahan warna air laut ini terlihat di perairan Pantai Sukaresik, lokasi pendamparan tongkang.
Sebuah kapal tongkang yang mengangkut sekitar 80.000 pon atau 40 ton batu bara mengalami kebocoran pada bagian lambung kanannya. Insiden ini menyebabkan sebagian muatan batu bara tercecer ke laut.
Tongkang tersebut sedang dalam pelayaran dari Palembang menuju Cilacap, Jawa Tengah, ketika musibah ini terjadi. Kerusakan pada pintu lambung kanan tongkang menjadi pemicu utama.
Masuknya air laut ke dalam kapal membuat tongkang kehilangan stabilitasnya. Hal ini menimbulkan kekhawatiran serius bagi keselamatan kapal dan awaknya.
Menyadari situasi yang semakin berbahaya, awak kapal segera mengambil tindakan pencegahan. Mereka memutuskan untuk mendamparkan tongkang secara darurat.
Pendamparan darurat ini dilakukan di kawasan Pantai Sukaresik, Desa Sidamulih, Kabupaten Pangandaran. Kejadian ini berlangsung pada Selasa, 16 Juni 2026, sekitar pukul 15.00 WIB.
Langkah pendamparan darurat ini diambil sebagai upaya terakhir untuk mencegah kapal tenggelam sepenuhnya. Hal ini juga bertujuan untuk meminimalkan penyebaran muatan batu bara yang tumpah.






