Surabaya Berencana Jadikan Kota Lebih Sejuk dan Bebas Banjir

Pendidikan1 Views

GueBerita.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berkolaborasi dengan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Kristen (UK) Petra dalam sebuah lokakarya bertajuk “Blue-Green Infrastructure (BGI) in Surabaya”. Acara ini diselenggarakan pada Kamis, 18 Juni, pukul 08.00 hingga 12.00 WIB di Auditorium Kebun Raya Mangrove, Surabaya. Tujuannya adalah untuk mengurangi dampak banjir dan suhu ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim.

Lokakarya ini dihadiri oleh sekitar 30 peserta yang berasal dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lintas sektor. Peserta mencakup perwakilan dari bidang tata ruang, hidrologi, dan mitigasi kota. Selain itu, turut hadir pula akademisi dan perwakilan organisasi masyarakat sipil.

Rully Damayanti, S.T., M.Art., Ph.D., selaku Dekan FTSP UK Petra, menyoroti tantangan yang dihadapi Surabaya saat ini. Ia menjelaskan bahwa rendahnya jumlah lahan terbuka di perkotaan membuat Surabaya rentan terhadap bencana seperti banjir dan suhu ekstrem, yang diperparah oleh perubahan iklim.

Lebih lanjut, Rully Damayanti mengungkapkan bahwa lokakarya ini bertujuan untuk memperkenalkan konsep Blue-Green Infrastructure (BGI) yang masih tergolong baru di Surabaya. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi langkah awal dalam penyusunan peta jalan (road map) penerapan BGI di Kota Surabaya.

BGI sendiri merupakan sebuah pendekatan pembangunan perkotaan yang menggabungkan pengelolaan air (blue) dan ruang hijau (green). Konsep ini mengandalkan solusi berbasis alam atau nature-based solutions untuk meningkatkan kualitas lingkungan, memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim, serta mewujudkan keberlanjutan perkotaan.

Penerapan BGI dapat diwujudkan melalui berbagai cara. Di antaranya adalah pembangunan taman air, atap hijau, sengkedan, serta pengembangan sistem drainase yang berkelanjutan atau sustainable drainage systems (SuDS).

Narasumber utama dalam lokakarya ini adalah Prof. Robby Soetanto, seorang profesor dari Loughborough University, Inggris Raya, yang juga merupakan alumni Teknik Sipil UK Petra. Pengalaman Prof. Robby Soetanto sebelumnya telah membantunya mendampingi Pemerintah Kota Bandung dan Pemerintah Kota Semarang dalam menyusun peta jalan penerapan BGI.

Prof. Robby Soetanto menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam pembangunan kota. Ia menambahkan bahwa pendekatan berbasis alam menjadi semakin krusial untuk memastikan kelayakan huni dan keberlanjutan kota di masa depan.

Selain menghadirkan narasumber internasional, UK Petra juga melibatkan enam dosen dari berbagai lintas jurusan untuk memberikan pendampingan kepada para peserta lokakarya. Keterlibatan ini menunjukkan komitmen universitas dalam mendukung pengembangan kota.

Dekan FTSP UK Petra, Rully Damayanti, menegaskan kembali bahwa lokakarya ini merupakan bagian dari upaya UK Petra untuk berkontribusi pada pengembangan Kota Surabaya. Kontribusi ini dilakukan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin nyata dan berdampak luas.