Perubahan Istilah PCOS Menjadi PMOS: Alasan dan Dampak bagi Perempuan

Lifestyle11 Views

GueBerita.com — Setelah puluhan tahun dikenal dengan istilah Polycystic Ovary Syndrome (PCOS), kini dunia medis sepakat untuk mengganti nama kondisi hormonal pada perempuan ini menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS). Perubahan nama ini merupakan hasil konsensus dari 56 organisasi medis dan advokasi pasien global.

Pengumuman resmi ini dipublikasikan melalui jurnal ilmiah terkemuka, The Lancet, dan dipresentasikan dalam European Congress of Endocrinology di Praha pada 12 Mei 2026. Perubahan ini bukan sekadar revisi terminologi, melainkan koreksi ilmiah penting yang telah lama dinantikan.

Mengapa Istilah PCOS Diubah Menjadi PMOS?

Istilah Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) pertama kali diperkenalkan pada tahun 1935. Namun, penggunaan kata ‘polycystic’ atau ‘banyak kista’ sering kali menimbulkan kesalahpahaman. Banyak orang, termasuk sebagian tenaga medis, menganggap kondisi ini semata-mata sebagai masalah kista pada ovarium.

Baca juga: Gaya Retro Olivia Rodrigo di Spotify Billions Club Tuai Pujian, Namun Disebut Terlalu Kekanak-kanakan

Padahal, perempuan yang mengalami kondisi ini sebenarnya tidak memiliki kista patologis di indung telur mereka. Apa yang terlihat pada pemeriksaan USG adalah folikel-folikel kecil yang pertumbungannya terhenti, bukan kista.

Kesalahpahaman yang berlangsung hampir 90 tahun ini membawa sejumlah dampak negatif, di antaranya:

  • Keterlambatan Diagnosis: Pasien seringkali tidak terdeteksi sejak dini karena fokus pemeriksaan yang keliru pada kista.
  • Stigma dan Ketakutan: Label “kista” memicu kecemasan yang berlebihan dan tidak perlu pada penderita.
  • Hambatan Riset: Arah penelitian dan kebijakan kesehatan sempat terhambat akibat penamaan yang kurang akurat.

Nama baru, PMOS, lahir dari proses konsensus global yang memakan waktu 11 tahun. Proses ini melibatkan lebih dari 22.000 pasien, dokter, dan peneliti. Struktur nama baru ini dirancang untuk menggambarkan kondisi yang sebenarnya secara lebih presisi:

  • Poly–endocrine: Menunjukkan adanya gangguan hormonal yang kompleks dan melibatkan berbagai kelenjar endokrin.
  • Metabolic: Mengakui adanya dampak metabolik yang signifikan, seperti resistensi insulin, peningkatan risiko diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.
  • Ovarian: Tetap merujuk pada peran ovarium dalam kondisi ini, namun tidak mendominasi pemahaman fungsi reproduksi secara berlebihan.
  • Syndrome: Menegaskan bahwa kondisi ini merupakan kumpulan gejala yang bervariasi pada setiap individu.

Mengenal PMOS: Gejala dan Faktor Risiko

PMOS adalah gangguan hormonal kronis yang memengaruhi berbagai aspek kesehatan, termasuk metabolisme, fungsi reproduksi, kesehatan kulit, pengelolaan berat badan, hingga kesehatan mental.

Secara global, kondisi ini dialami oleh lebih dari 170 juta perempuan, atau sekitar satu dari delapan perempuan usia subur. Di Indonesia sendiri, prevalensinya diperkirakan mencapai 5 hingga 10 persen dari populasi perempuan usia subur.

Gejala PMOS yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Siklus menstruasi yang tidak teratur, jarang, atau bahkan berhenti sama sekali.
  • Hiperandrogenisme, yaitu kadar hormon pria yang tinggi, yang dapat memicu jerawat parah, kerontokan rambut di kepala, serta pertumbuhan rambut halus di wajah atau tubuh (hirsutisme).
  • Kesulitan menurunkan berat badan, terutama dengan kecenderungan penumpukan lemak di area perut.
  • Resistensi insulin, yang secara signifikan meningkatkan risiko terkena diabetes.
  • Masalah kesuburan atau kesulitan untuk hamil.
  • Perubahan suasana hati yang drastis, disertai dengan peningkatan risiko kecemasan dan depresi.
  • Munculnya akantosis nigrikans, yaitu penggelapan kulit di area lipatan tubuh seperti leher, ketiak, atau selangkangan.

Kondisi ini umumnya mulai terdeteksi sejak masa remaja, seiring dengan dimulainya siklus menstruasi. Faktor genetik memegang peran penting dalam perkembangan PMOS. Namun, pola hidup yang kurang sehat, stres kronis, dan kurangnya aktivitas fisik dapat memperburuk gejala yang muncul.