Peningkatan Perceraian Gen Z: Didominasi oleh Gangguan Kepribadian Narsistik

Lifestyle10 Views

GueBerita.com – Fenomena perpisahan di usia pernikahan yang masih seumur jagung kini tengah membayangi Generasi Z.

Selain faktor ekonomi, laporan klinis terbaru menunjukkan bahwa dinamika kepribadian, khususnya Gangguan Kepribadian Narsistik (NPD), menjadi faktor krusial di balik keretakan rumah tangga pasangan muda saat ini.

Penelitian modern mengungkapkan bahwa Gen Z, sebagai generasi yang paling terpapar media sosial, memiliki kecenderungan lebih tinggi terhadap perilaku pencarian validasi. Interaksi digital yang intens membentuk pola hubungan yang penuh ekspektasi tidak realistis.

Baca juga: CCTV Rekam Tabrak Lari di Deltamas Bekasi, Ibu Penyapu Jalan Diduga Patah Tulang

Ketika kebutuhan akan “likes” dan kekaguman dari dunia maya dibawa ke dalam ranah domestik, hubungan cenderung menjadi berat sebelah. Pasangan dituntut untuk selalu responsif dan memberikan pengakuan konsisten, layaknya audiens di media sosial.

Menurut standar klinis DSM-5, NPD bukan sekadar sifat percaya diri berlebih, melainkan pola kepribadian menetap yang ditandai dengan rendahnya empati dan kebutuhan akan kekaguman yang ekstrem. Beberapa ciri yang sering memicu konflik antara lain:

  • Ketidakmampuan menerima kritik sekecil apa pun.
  • Kecenderungan memanipulasi pasangan demi mempertahankan citra diri.
  • Respons impulsif atau defensif saat menghadapi perbedaan pendapat.

Pola ini sering kali berujung pada kondisi di mana pasangan merasa harus “berjalan di atas kulit telur”. Mereka merasa tidak aman dan takut memicu kemarahan pasangan secara tiba-tiba.

Ketidakhadiran empati membuat pengidap NPD sulit memahami kebutuhan emosional pasangannya. Hal ini diperparah dengan sifat entitlement (merasa berhak), di mana mereka menganggap kebutuhan pribadinya jauh lebih penting daripada kebutuhan pasangan atau keberlangsungan pernikahan itu sendiri.

Berdasarkan studi dari American Psychological Association, narsisme secara nyata menurunkan kualitas pernikahan dari waktu ke waktu. Gejala ini juga berkorelasi signifikan dengan niat perselingkuhan akibat kebutuhan akan kekaguman yang tidak pernah terpuaskan.

Pesan Penting bagi Pasangan:

Validasi pengalamanmu. Masalahnya bukan karena kamu ‘kurang usaha’, tetapi karena pola kepribadian patologis yang sulit berubah. Membangun batasan yang sehat serta mencari bantuan profesional seperti psikoterapi sangat disarankan untuk melindungi kesehatan mental.