Guru Ungkap Tantangan Mengajar Selama 20 Tahun di Tanjung Selor

Pendidikan10 Views

GueBerita.com – Hari Pendidikan Nasional (HPN) 2026 menjadi momen yang sangat penting bagi bangsa Indonesia untuk merenungkan kemajuan sektor pendidikan yang telah dicapai.

Namun, di tengah gegap gempita perayaan yang seringkali berpusat di kota-kota besar, terdapat cerita-cerita yang tak kalah menggugah dari daerah-daerah yang jauh dari pusat perhatian, terutama di wilayah perbatasan seperti Kalimantan Utara.

Kisah-kisah para pendidik di sana menunjukkan betapa besar dedikasi mereka dalam memperjuangkan kesempatan belajar yang setara bagi semua anak, meskipun berbagai keterbatasan fasilitas dan tantangan sistemik masih menjadi rintangan besar.

Salah satu sosok inspiratif itu adalah Puji Astuti, seorang guru agama Buddha yang telah mengabdikan dirinya selama lebih dari dua dekade di SDN 001 Tanjung Selor.

Tanjung Selor sendiri merupakan ibu kota dari Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, sebuah wilayah yang berbatasan langsung dengan negara lain.

Sekolah tempat Puji mengajar ini, meskipun berada di daerah perbatasan, dilaporkan memiliki fasilitas yang tergolong lebih baik jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain di daerah yang lebih terpencil.

Di lingkungan SDN 001, Puji menyaksikan langsung bagaimana kerukunan antarumat beragama tumbuh dengan sangat alami dan harmonis di antara para siswanya.

Anak-anak dari berbagai latar belakang agama dapat berinteraksi dan belajar bersama dalam suasana yang penuh toleransi dan saling menghargai.

Namun, di balik keharmonisan tersebut, terselip sebuah tantangan yang cukup signifikan, yaitu terkait dengan sistem zonasi dalam penerimaan siswa.

Sistem ini mengakibatkan siswa yang beragama Buddha menjadi tersebar di berbagai sekolah yang berbeda, yang pada gilirannya menyulitkan upaya untuk menyediakan layanan pendidikan agama Buddha yang merata dan terjangkau bagi semua siswa.

Puji Astuti, yang telah menyaksikan secara langsung berbagai perubahan dan dinamika dalam dunia pendidikan selama lebih dari 20 tahun pengabdiannya, mengungkapkan sebuah harapan yang tulus untuk masa depan pendidikan di Indonesia.

“Semoga ke depan pendidikan semakin inklusif dan semua peserta didik mendapatkan layanan yang adil, tanpa terkecuali,” ungkap Puji Astuti dalam sebuah kutipan yang dilansir pada tanggal 2 Mei 2026.

Kisah yang dibagikan oleh Puji Astuti ini menjadi pengingat yang kuat bahwa peringatan Hari Pendidikan Nasional pada tahun 2026 ini seharusnya tidak hanya menjadi sebuah seremoni belaka.

Perayaan ini seharusnya menjadi sebuah panggilan nyata untuk melakukan perbaikan sistemik yang mendalam di seluruh sektor pendidikan Indonesia.

Dengan terus berupaya mendorong terciptanya pendidikan yang lebih inklusif dan secara aktif mengatasi berbagai disparitas yang timbul akibat sistem zonasi, Indonesia memiliki peluang besar untuk mewujudkan cita-cita pendidikan berkualitas yang dapat diakses oleh setiap anak bangsa.

Baca juga: Dukungan Pemkot Kediri untuk Pengembangan Padel, PBPI Dilantik Periode 2026-2030

Hal ini berlaku tanpa memandang di mana mereka tinggal, baik itu di pusat kota maupun di daerah perbatasan yang terpencil.