Agroforestri dan Silvopasture: Solusi Indonesia untuk Degradasi Lahan Global

Nasional6 Views

GueBerita.com – Tantangan lingkungan global kembali disorot: degradasi lahan dan kekeringan, isu ini bukan sekadar wacana internasional tapi berdampak langsung pada hutan, iklim, dan kesejahteraan masyarakat.

Alih fungsi lahan masih jadi penyebab utama menyusutnya tutupan hutan.

Isu ini berkaitan erat dengan komitmen bersama dalam pengendalian perubahan iklim global dan perlindungan keanekaragaman hayati.

Hingga kini, alih fungsi dan perubahan penggunaan lahan masih menjadi pemicu utama berkurangnya tutupan hutan, yang berimplikasi langsung pada meluasnya area lahan terdegradasi di tanah air. Hal ini menjadi keprihatinan tersendiri mengingat dampaknya yang signifikan terhadap ekosistem dan kehidupan manusia.

Pada tahun ini, Peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia, yang dikenal secara internasional sebagai Desertification and Drought Day, mengusung tema global “Rangeland: Recognize, Respect, Restore”. Tema ini menekankan pentingnya pengakuan, penghormatan, dan pemulihan ekosistem padang rumput yang vital bagi keberlanjutan lingkungan.

Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa tema global tahun 2026 tersebut sangat selaras dengan arah kebijakan nasional Indonesia dalam menanggulangi degradasi lahan dan kekeringan. Indonesia memiliki komitmen kuat untuk mengatasi persoalan ini melalui berbagai program dan strategi yang relevan.

Dalam implementasi praktis di lapangan, pola Agroforestri menjadi salah satu solusi andalan yang mampu menjembatani kebutuhan ekonomi lokal di tengah proses perbaikan lahan yang terdegradasi melalui skema Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL). Pendekatan ini mengintegrasikan tanaman pohon dengan tanaman pertanian atau ternak, memberikan manfaat ekonomi sekaligus ekologis.

Selain Agroforestri, bentuk penghormatan terhadap budaya setempat diwujudkan melalui pengembangan sistem Silvopasture. Sistem ini secara terintegrasi memadukan antara aktivitas penggembalaan ternak tradisional masyarakat dengan pengelolaan hutan lestari. Dengan demikian, keberlanjutan ekosistem hutan dan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai secara bersamaan.

Upaya penanggulangan degradasi lahan ini dijalankan oleh Kementerian Kehutanan dengan melibatkan berbagai pihak. Kolaborasi ini mencakup masyarakat, akademisi, dunia usaha, Forum/LSM, dan insan pers, menunjukkan pendekatan multi-stakeholder yang komprehensif.

Indonesia juga mempersiapkan agenda strategis menuju COP 17 UNCCD (United Nations Convention to Combat Desertification) yang akan diselenggarakan di Ulaanbaatar, Mongolia, pada tanggal 17 hingga 28 Agustus 2026 mendatang. Partisipasi aktif dalam forum internasional ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk berkontribusi dalam solusi global.

Dalam konteks nasional, upaya penanggulangan degradasi hutan dan lahan ini memegang peranan krusial sebagai pilar utama dalam menyukseskan komitmen iklim Indonesia. Khususnya, program ini sangat vital untuk pencapaian target Indonesia’s FOLU (Forestry and Other Land Use) Net Sink 2030. Target ini bertujuan untuk menyeimbangkan emisi dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya agar tidak ada penyerapan bersih yang melebihi emisi pada tahun 2030.