Ernest Prakasa Angkat Bicara Soal Monopoli Bioskop: Ini Bagian dari Kapitalisme

News20 Views

GueBerita.com – Isu mengenai dugaan monopoli dalam penayangan film di bioskop kembali mengemuka.

Hal ini bermula dari pernyataan produser film Nicki R.V. dari 786 Production yang menyinggung adanya penguasaan jadwal tayang oleh rumah produksi tertentu.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VII DPR RI.

Menanggapi perdebatan yang muncul, komika sekaligus sutradara Ernest Prakasa turut memberikan pandangannya.

Melalui unggahan di Instagram pada Minggu (24/5/2026), Ernest menilai bahwa situasi ini bukanlah bentuk kecurangan.

Menurutnya, ini adalah konsekuensi alami dari sistem kapitalisme yang berjalan.

Ernest menjelaskan bahwa bioskop memiliki keterbatasan layar dan biaya operasional yang sangat tinggi.

Baca juga: Produksi Pabrik Amerika Meningkat Pesat dalam 14 Bulan Terakhir, Didorong Industri Otomotif dan Kecerdasan Buatan

Oleh karena itu, pengelola bioskop cenderung memprioritaskan film dari rumah produksi besar.

Rumah produksi besar dianggap memiliki tingkat kepercayaan publik yang tinggi dan kekuatan promosi yang sudah mapan.

Ia menekankan bahwa pemilihan film ini didasarkan pada pertimbangan bisnis yang rasional.

Ini bukan berkaitan dengan praktik tidak etis seperti suap atau kolusi.

Ernest Prakasa, yang aktif di industri film Indonesia, melihat pola penjadwalan ini sebagai hasil logis dari mekanisme pasar.

Pernyataan ini disampaikan Ernest setelah adanya Rapat Dengar Pendapat yang membahas keberatan dari berbagai pihak.

Keberatan tersebut terkait dengan dominasi film produksi besar pada slot tayang utama di bioskop nasional.

Ernest berpendapat bahwa operasional bioskop membutuhkan modal besar dengan biaya tetap yang tinggi.

Hal ini mendorong pihak pengelola untuk memilih film yang dinilai memiliki potensi pengembalian investasi (ROI) yang lebih tinggi.

Film dari rumah produksi besar umumnya memiliki keunggulan dalam hal promosi yang luas dan strategi distribusi yang matang.

Selain itu, data penonton yang sudah terukur membuat film-film ini dianggap lebih aman untuk mengisi jam tayang utama.

Meskipun berpegang pada pandangan bahwa kondisi ini merupakan bagian dari sistem kapitalisme pasar, Ernest Prakasa tidak menampik adanya persoalan struktural dalam distribusi film di Indonesia.

Ia mengakui bahwa ada tantangan yang perlu diatasi dalam rantai distribusi film nasional.

Namun, secara mendasar, ia melihat fenomena ini sebagai cerminan dari dinamika pasar yang ada.