GueBerita.com – Kebijakan pemerintah yang memangkas kuota produksi nikel nasional mulai berdampak pada industri tambang di Maluku Utara.
PT Weda Bay Nickel (WBN) dikabarkan akan mengurangi tenaga kerja hingga 65 persen. Keputusan ini diambil setelah kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025 dipotong secara signifikan.
Pengurangan tenaga kerja ini diperkirakan akan memengaruhi sekitar 10.000 pekerja dan kontraktor yang beroperasi di kawasan industri Weda Bay, Halmahera Tengah. Kuota produksi perusahaan mengalami penurunan drastis, dari 42 juta wet metric ton (wmt) menjadi hanya 12 juta wmt.
Baca juga: Beberapa Kebiasaan Sederhana yang Menyebabkan Rambut Cepat Lepek dan Berminyak
CEO Eramet Indonesia, Jerome Baudelet, menjelaskan bahwa sebagian dari pekerja yang terdampak akan dialihkan ke proyek hilirisasi di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP).
Namun, peluang kerja baru yang tersedia dinilai belum cukup untuk sepenuhnya menutupi dampak pengurangan tenaga kerja akibat pembatasan produksi ini.
Penurunan produksi nikel juga menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya pasokan bijih nikel untuk kebutuhan industri hilirisasi.
Kawasan IWIP sendiri membutuhkan pasokan bijih nikel sekitar 100 juta ton per tahun agar operasionalnya dapat berjalan secara optimal.
Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menetapkan target produksi nikel nasional untuk tahun 2026. Angka yang ditetapkan berada di kisaran 260 hingga 270 juta ton, lebih rendah dibandingkan kuota sebelumnya yang mencapai 379 juta ton.
Langkah pemerintah dalam memangkas kuota produksi ini bertujuan untuk membantu mendorong harga nikel dunia yang saat ini masih berada di level yang relatif rendah, yaitu US$14.000 hingga US$15.000 per ton.
Meskipun kebijakan ini diharapkan dapat menjaga stabilitas harga dan keberlanjutan sumber daya nikel, dampaknya memunculkan kekhawatiran serius terkait potensi peningkatan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan tekanan ekonomi di daerah-daerah yang bergantung pada industri nikel, seperti Maluku Utara.






