Tato Permanen: Alasan Ilmiah di Balik Tinta yang Bertahan Lama

Lifestyle15 Views

GueBerita.com – Tato, yang sering dipandang hanya sebagai seni visual yang melekat pada lapisan terluar kulit, ternyata melibatkan proses biologis yang jauh lebih rumit. Penjelasan medis terbaru mengungkap bahwa keberadaan tato di tubuh manusia dipengaruhi oleh siklus aktivitas sel imun yang berkelanjutan.

Menurut penjelasan dr. Adam Prabata, seorang dokter dan edukator kesehatan, tato bersifat permanen bukan semata-mata karena daya rekat tinta, melainkan hasil dari peradangan kronis pada kulit yang melibatkan sel-sel imun.

“Tato itu ‘permanen’ BUKAN karena tintanya nempel di kulit terus, tapi karena siklus peradangan kronis di kulit yang melibatkan sel-sel imun,” jelas dr. Adam Prabata.

Mekanisme ‘Capture-Release-Recapture’ dalam Tubuh

Ketika jarum tato menembus kulit, tubuh secara alami merespons kehadiran benda asing. Sel-sel imun, seperti neutrofil, makrofag, dan sel dendritik, segera bergerak untuk “melahap” partikel-partikel tinta yang masuk.

Tinta tato dapat bertahan lama di dalam tubuh berkat mekanisme unik pada sel makrofag yang dikenal sebagai *capture-release-recapture*. Proses ini menjelaskan bagaimana pigmen tinta tetap berada di dalam kulit.

Dalam mekanisme ini, sel makrofag menelan partikel tinta. Namun, karena ukuran pigmen yang besar dan sulit dicerna oleh makrofag, sel tersebut akhirnya mengalami kematian.

Setelah makrofag mati, pigmen tinta yang terkandung di dalamnya akan terlepas kembali ke jaringan kulit. Tak lama kemudian, sel makrofag baru akan datang dan kembali menelan pigmen tinta yang terlepas tersebut.

Secara sederhana, tato tetap terlihat karena adanya proses “estafet” atau pergantian sel imun yang terus-menerus mengambil kembali tinta yang terlepas, memastikan pigmen tetap berada di area yang sama.

Potensi Risiko Kesehatan dan Hubungannya dengan Kanker

Meskipun memiliki nilai estetika, penumpukan tinta tato di dalam sistem imun tubuh tidak lepas dari potensi risiko. Penelitian terbaru mengindikasikan bahwa aktivitas sel imun yang terfokus pada tinta tato dapat mengganggu fungsi kekebalan tubuh yang normal.

Gangguan ini bahkan dapat memengaruhi respons tubuh terhadap vaksin tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan tinta tato dapat memengaruhi cara sistem imun bekerja.

Lebih mengkhawatirkan lagi, paparan tinta tato dalam jangka panjang telah dikaitkan dengan masalah kesehatan yang lebih serius. Sebuah studi terbaru yang dilakukan terhadap saudara kembar di Denmark menemukan adanya keterkaitan antara penggunaan tato dengan peningkatan risiko limfoma, yaitu kanker kelenjar getah bening.

Baca juga: Dampak Kekerasan di Rumah pada Otak Anak

Selain itu, studi yang sama juga menunjukkan potensi peningkatan risiko kanker kulit bagi individu yang memiliki tato. Temuan ini menyoroti pentingnya penelitian lebih lanjut mengenai dampak kesehatan jangka panjang dari seni tato.