GueBerita

Portal Berita Terkini, Viral & Informasi Hari Ini

International Short Course 2026: Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Ulama Perempuan

Avatar photo

GueBerita.com – Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai kiblat moderasi Islam dunia melalui perhelatan International Short Course 2026: Learning Islam Through Women Ulama, Knowledge, Justice, and Social Transformation in Indonesia. Acara yang berlangsung selama delapan hari, mulai 2 hingga 9 November 2026, ini menjadi wadah strategis bagi para akademisi, peneliti, serta mahasiswa dari enam negara untuk membedah peran krusial ulama perempuan dalam dinamika sosial dan keagamaan di tanah air.

Kegiatan berskala internasional ini resmi dibuka oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, di Masjid Istiqlal, Jakarta. Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan; Masjid Istiqlal berfungsi sebagai simbol integrasi antara pusat ibadah dengan pengembangan pendidikan kader ulama yang inklusif.

Program ini merupakan hasil kolaborasi lintas institusi yang melibatkan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI), Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), Social Trust Fund (STF) UIN Jakarta, dan lembaga riset internasional asal Norwegia, Peace Research Institute Oslo (PRIO).

Indonesia sebagai Laboratorium Islam Dunia

Dalam pidato pembukaannya, Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan bahwa Indonesia adalah laboratorium hidup bagi perkembangan Islam yang moderat. Menurutnya, praktik keagamaan di Indonesia tidak hanya berkutat pada kajian teks-teks klasik, melainkan telah berakulturasi secara harmonis dengan nilai-nilai demokrasi, budaya lokal, dan kemanusiaan.

“Indonesia merupakan laboratorium hidup bagi perkembangan Islam. Di sini, ajaran Islam terus dikaji, dipraktikkan, dan dikembangkan melalui interaksi antara keilmuan agama, budaya lokal, institusi pendidikan, masyarakat sipil, dan nilai-nilai demokrasi,” ujar Nasaruddin Umar pada Senin (2/11/2026).

Lebih lanjut, Menag menjelaskan bahwa Islam di Indonesia tumbuh secara dinamis di tengah masyarakat dan lingkungan pesantren. Interaksi inilah yang kemudian membentuk wajah Islam yang inklusif dan relevan dengan tantangan zaman modern.

Peran Strategis Ulama Perempuan dan Pesantren

Salah satu agenda utama dalam kursus singkat ini adalah mengeksplorasi kontribusi ulama perempuan dalam transformasi sosial. Selama ini, narasi mengenai ulama perempuan sering kali terpinggirkan dalam diskursus global. Melalui forum ini, para peserta diajak untuk melihat bagaimana ulama perempuan di Indonesia mampu mengintegrasikan keilmuan agama dengan perjuangan keadilan sosial.

Pesantren, yang selama ini dikenal sebagai institusi pendidikan tradisional, juga mendapatkan perhatian khusus dalam kajian ini. Pesantren dipandang bukan sekadar lembaga pengajaran ilmu agama, melainkan pusat transformasi sosial yang aktif merespons isu-isu kontemporer, termasuk kesetaraan gender dan pemberdayaan masyarakat.

Adapun poin-poin utama yang menjadi fokus pembahasan dalam kursus singkat ini meliputi:

  • Analisis mendalam mengenai ekosistem keilmuan ulama perempuan di Indonesia.
  • Integrasi nilai agama dengan demokrasi dan hak asasi manusia.
  • Peran pesantren sebagai penggerak perubahan sosial di era globalisasi.
  • Kolaborasi riset internasional antara institusi pendidikan Indonesia dengan lembaga global.

Agenda Lanjutan di Jakarta dan Cirebon

Setelah pembukaan di Jakarta, rangkaian kegiatan kursus singkat ini akan dilanjutkan dengan serangkaian diskusi, kunjungan lapangan, dan lokakarya yang berlokasi di Jakarta dan Cirebon. Pemilihan Cirebon sebagai salah satu pusat penyelenggaraan merefleksikan sejarah panjang kota tersebut sebagai titik temu tradisi keislaman Nusantara dengan nilai-nilai kemanusiaan yang progresif.

Melalui forum ini, diharapkan pemahaman komunitas akademik global terhadap Islam di Indonesia menjadi lebih komprehensif. Kehadiran delegasi dari enam negara diharapkan dapat membawa perspektif baru serta memperkuat jaringan riset internasional yang berfokus pada keadilan, pengetahuan, dan transformasi sosial berbasis nilai-nilai Islam yang moderat.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa narasi Islam dari Indonesia memiliki daya tarik intelektual bagi dunia internasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai rujukan utama dalam studi Islam kontemporer yang menjunjung tinggi martabat perempuan dan keadilan sosial.

Avatar photo