GueBerita.com – Kebiasaan baru kini mulai menjangkiti Generasi Z di Indonesia, yaitu mencurahkan isi hati kepada kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Sebuah riset terbaru mengungkapkan fakta menarik bahwa mayoritas responden berusia 18 hingga 26 tahun, tepatnya 81,1 persen, pernah menggunakan AI sebagai sarana berbagi cerita.
Teknologi ini dinilai menawarkan keunggulan signifikan, seperti ketersediaan yang konstan, sifatnya yang tidak menghakimi, serta menciptakan ruang yang aman dan nyaman untuk mengekspresikan perasaan dan persoalan pribadi.
Survei nasional yang baru saja dirilis menunjukkan bahwa sebagian besar responden telah memanfaatkan chatbot atau asisten virtual untuk mendiskusikan berbagai topik. Mulai dari isu-isu yang menimbulkan kecemasan, dinamika hubungan pertemanan dan asmara, hingga pertimbangan penting terkait pendidikan dan karier.
Bagi banyak responden, AI hadir sebagai alternatif yang sangat berharga, terutama ketika mereka merasa belum siap atau belum menemukan momen yang tepat untuk membicarakan masalah mereka dengan keluarga, teman, atau orang-orang terdekat lainnya.
Alasan utama di balik meningkatnya popularitas AI sebagai teman curhat adalah ketersediaannya yang melayani selama 24 jam penuh. Selain itu, anonimitas pengguna yang terjaga dan minimnya rasa malu atau sungkan juga menjadi faktor penentu.
Responden berpendapat bahwa interaksi dengan AI memberikan kesempatan berharga untuk mengurai benang kusut pikiran secara lebih tenang. Hal ini dapat dilakukan tanpa adanya tekanan sosial yang sering kali muncul, maupun rasa takut akan penilaian negatif dari lawan bicara.
Lebih lanjut, riset tersebut juga mengindikasikan bahwa sekitar 32 persen responden pernah menggunakan hasil percakapan mereka dengan AI sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup.
Keputusan-keputusan yang dimaksud mencakup spektrum yang luas, mulai dari pemilihan jurusan kuliah yang sesuai, penyusunan strategi karier yang matang, hingga proses melamar pekerjaan, bahkan pertimbangan mendalam dalam hubungan pribadi.
Meskipun demikian, para peneliti yang terlibat dalam studi ini menekankan sebuah poin penting. AI sebaiknya diposisikan sebagai sumber masukan tambahan yang konstruktif, bukan sebagai pihak yang menentukan keputusan akhir.
Selain itu, temuan lain menunjukkan bahwa mayoritas responden mengakses layanan AI melalui aplikasi pesan instan yang terpasang di ponsel pintar mereka. Sebagian lainnya memilih untuk memanfaatkan fitur AI yang terintegrasi dalam platform media sosial atau melalui layanan konseling digital yang tersedia.






