Nyeri Rahang Akibat Gigi Bungsu Impaksi: Gejala dan Solusi

Lifestyle19 Views

GueBerita.com – Masalah kesehatan gigi dan mulut kerap kali terabaikan, hingga akhirnya menimbulkan rasa sakit yang sulit ditoleransi. Salah satu kondisi yang paling sering menyebabkan keluhan di area rahang adalah impaksi gigi bungsu. Kondisi ini terjadi ketika gigi geraham ketiga gagal tumbuh secara normal karena keterbatasan ruang pada gusi.

Gusi yang meradang dan rasa cenat-cenut akibat pertumbuhan gigi bungsu ini ternyata dialami oleh jutaan orang di seluruh dunia. Masalah ini bukan sekadar keluhan biasa, melainkan sebuah fenomena medis yang memiliki angka kejadian cukup tinggi di masyarakat.

Praktisi kesehatan sekaligus edukator medis, dr. Adam Prabata, mengungkapkan fakta menarik mengenai seberapa besar potensi seseorang mengalami kondisi ini. Melalui edukasi digitalnya, ia menjabarkan bahwa permasalahan gigi geraham bungsu ini sangat umum dijumpai pada usia dewasa muda.

Baca juga: Usulan Penambahan Huruf K pada Istilah Harga 100K

“Sekitar 1 dari 5 orang di dunia mengalami impaksi pada gigi bungsu,” ujar dr. Adam Prabata, dikutip dari unggahan edukasi di akun media sosial resminya.

Lebih lanjut, dr. Adam memaparkan bahwa prevalensi kondisi ini akan meningkat seiring bertambahnya usia seseorang. Berdasarkan data ilmiah medis yang ada, angka kejadian impaksi ini menyentuh 24,4% pada kelompok individu yang telah berusia di atas 17 tahun.

Selain masalah statistik, posisi pertumbuhan gigi juga memegang peranan penting dalam menentukan tingkat keparahan gejala. Impaksi gigi bungsu dilaporkan jauh lebih sering terjadi pada area rahang bawah dibandingkan rahang atas.

Adapun posisi anomali yang paling kerap ditemukan oleh para dokter gigi di ruang praktik adalah posisi mesioangular. Ini adalah kondisi gusi di mana arah pertumbuhan gigi bungsu tampak miring ke depan dan menekan gigi di depannya.

Menariknya, tidak semua orang yang memiliki gigi bungsu impaksi akan langsung merasakan keluhan. Sebagian orang bisa hidup normal tanpa gejala selama bertahun-tahun. Namun, ketika gigi tersebut mulai menekan saraf atau menciptakan celah yang sulit dibersihkan, berbagai gejala klinis yang mengganggu aktivitas sehari-hari akan mulai bermunculan.

Terdapat beberapa tanda utama yang harus diwaspadai oleh masyarakat terkait impaksi gigi geraham ini. Gejala yang paling sering dikeluhkan meliputi timbulnya nyeri kronis di area belakang rahang. Selain itu, munculnya bau mulut (halitosis) akibat penumpukan bakteri di sela gusi yang sulit disikat, hingga terjadinya kondisi trismus atau kesulitan untuk membuka mulut secara normal.

Jika gejala-gejala tersebut sudah mulai mengganggu kenyamanan dan kualitas hidup, dr. Adam Prabata mengimbau masyarakat untuk tidak menunda tindakan medis. Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

“Bila ada gejala yang mengganggu, langsung segera dikonsultasikan ke dokter gigi ya!” pungkas dr. Adam Prabata dalam pesan edukasinya kepada masyarakat luas.