Mitos atau Fakta: Darah Haid Mematikan Sperma? Penjelasan Ilmiah

Lifestyle16 Views

GueBerita.com – Anggapan bahwa melakukan hubungan intim di kala wanita sedang menstruasi 100 persen aman dari risiko kehamilan ternyata merupakan sebuah kekeliruan besar. Di tengah masyarakat, masih banyak beredar mitos yang menyebutkan bahwa darah haid memiliki kemampuan untuk menetralkan atau bahkan membunuh sperma yang masuk ke dalam organ intim wanita.

Praktisi kesehatan sekaligus edukator medis, dr. Adam Prabata, mengungkapkan secara medis, asumsi tersebut sama sekali tidak benar. Ketika sperma berhasil masuk ke dalam vagina saat masa haid, cairan reproduksi pria ini tidak langsung mati.

Sebaliknya, sperma yang sehat justru tetap mampu bertahan hidup dan terus bergerak menuju serviks atau leher rahim. Di area rahim inilah, sperma akan menemukan lingkungan yang jauh lebih mendukung untuk kelangsungan hidupnya.

Baca juga: Penerapan RPL Profesional di UHN IGB Sugriwa: Pengalaman Kerja Jadi Kredit Akademik

Meskipun cairan atau darah haid memiliki kadar keasaman tertentu dan dilengkapi dengan sel-sel imun tubuh, kekuatan sperma yang berkualitas tidak bisa diremehkan. Sperma dapat dengan sangat cepat meninggalkan area vagina yang asam dan mengamankan diri di dalam saluran reproduksi wanita.

Di lokasi yang aman tersebut, sperma bahkan sanggup bertahan hidup hingga 3 sampai 5 hari lamanya. Pada dasarnya, proses kehamilan hanya akan terjadi apabila sperma berhasil bertemu dan membuahi sel telur (ovum) yang dilepaskan oleh indung telur selama masa subur atau ovulasi.

Pada wanita dengan siklus haid normal (28 hari), ovulasi idealnya berlangsung di sekitar hari ke-14, bukan pada saat dinding rahim sedang meluruh atau menstruasi. Karena sperma bisa bertahan hingga 5 hari di dalam tubuh wanita, jendela pembuahan pun menjadi lebih fleksibel.

Potensi kehamilan ini akan meningkat drastis jika seorang wanita mengalami fase ovulasi yang maju atau terjadi lebih awal. Kondisi ini biasanya jamak ditemukan pada wanita yang memiliki siklus menstruasi cenderung pendek atau mereka yang siklus bulanannya tidak teratur.

Akibatnya, sperma yang masuk dari hubungan seks saat haid yang masih bertahan hidup di dalam rahim, berpotensi besar membuahi sel telur baru yang matang lebih cepat. “Jadi secara umum, meskipun risikonya rendah, namun TIDAK NOL,” tulis laporan medis terkait potensi kehamilan akibat aktivitas seksual di masa menstruasi.

Oleh karena itu, bagi pasangan yang sedang menunda momongan, sangat tidak disarankan untuk menjadikan masa menstruasi sebagai metode kontrasepsi alami tanpa pengaman. Pemahaman yang tepat mengenai sistem reproduksi sangat penting demi menghindari kehamilan yang tidak direncanakan serta menjaga kesehatan organ intim bersama.