GueBerita.com – Kisah unik dan penuh perjuangan datang dari Tammy Myers, seorang wanita asal Michigan, Amerika Serikat. Ia harus melalui proses adopsi untuk bisa diakui secara hukum sebagai ibu dari anak kandungnya sendiri. Peristiwa ini mencuat ke publik dan menjadi sorotan luas.
Kejadian ini bermula pada tahun 2021. Tammy Myers bersama suaminya, Jordan Myers, tengah berbahagia menyambut kelahiran anak kembar mereka, Eames dan Ellison. Kelahiran ini sendiri merupakan hasil dari proses ibu pengganti atau *surrogate mother*.
Meskipun secara biologis kedua bayi tersebut adalah darah daging pasangan Myers, hukum yang berlaku di negara bagian Michigan pada saat itu belum memberikan pengakuan legal terhadap praktik *surrogacy*. Hal ini menimbulkan kendala hukum yang signifikan bagi keluarga Myers.
Karena aturan yang ada, Tammy dan Jordan tidak serta merta diakui sebagai orang tua sah dari Eames dan Ellison. Mereka justru diwajibkan untuk menempuh prosedur adopsi resmi. Ini merupakan langkah hukum yang harus diambil agar status mereka sebagai orang tua terjamin.
Proses hukum yang harus dijalani ini ternyata tidak sebentar. Perjuangan mereka dalam mendapatkan pengakuan hukum atas anak-anak kandung mereka memakan waktu yang cukup panjang. Akhirnya, status adopsi resmi tersebut baru benar-benar selesai pada Desember 2022.
Sebelum kehadiran Eames dan Ellison, keluarga Myers sudah lebih dulu dikaruniai seorang putri cantik bernama Corryn. Kehidupan keluarga ini memang tidak lepas dari tantangan. Jauh sebelum berjuang dengan aturan *surrogacy*, mereka pernah menghadapi cobaan kesehatan yang berat.
Tammy Myers didiagnosis menderita kanker payudara pada tahun 2015. Ini adalah masa yang sangat sulit bagi dirinya dan seluruh anggota keluarga. Ia harus menjalani serangkaian pengobatan intensif untuk melawan penyakit tersebut.
Baca juga: Kenali 4 Tanda Lingkungan Beracun yang Mengancam Kesehatan Mentalmu
Setelah perjuangan panjang melawan kanker, Tammy akhirnya dinyatakan pulih. Dengan kondisi kesehatan yang membaik, pasangan ini pun memiliki harapan untuk dapat kembali menambah anggota keluarga mereka. Mereka ingin merasakan kembali kebahagiaan memiliki buah hati.
Namun, impian untuk memiliki anak lagi melalui jalur ibu pengganti justru membawa mereka pada sebuah persoalan hukum yang sama sekali tidak terduga. Aturan yang belum mendukung praktik *surrogacy* menjadi rintangan besar yang harus mereka hadapi.
Pengalaman pribadi yang penuh lika-liku ini ternyata menjadi motivasi besar bagi Tammy Myers. Ia merasa terpanggil untuk tidak hanya menyelesaikan masalah hukumnya sendiri, tetapi juga mendorong perubahan regulasi terkait *surrogacy* di Michigan. Ia ingin agar keluarga lain tidak mengalami kesulitan serupa.
Perempuan berusia 44 tahun ini kemudian menjadi sosok yang sangat aktif dalam memperjuangkan hak-hak terkait *surrogacy*. Ia terlibat dalam berbagai upaya advokasi untuk mendorong pengesahan undang-undang yang lebih inklusif. Perjuangannya membuahkan hasil yang signifikan.
Dedikasi dan kerja kerasnya membuahkan hasil positif. Pada akhirnya, Michigan Family Protection Act berhasil disahkan pada tahun 2024. Undang-undang baru ini diharapkan dapat memberikan kejelasan hukum dan perlindungan yang lebih baik bagi keluarga yang menggunakan jasa ibu pengganti di Michigan.
Kisah Tammy Myers ini menjadi pengingat pentingnya adaptasi hukum terhadap perkembangan teknologi dan pilihan keluarga modern. Perjuangannya menunjukkan betapa krusialnya regulasi yang jelas dan berkeadilan untuk melindungi hak-hak setiap individu, terutama dalam hal pembentukan keluarga.






