Harga Minyak Dunia Anjlok Setelah Sinyal Damai AS

News18 Views

GueBerita.com– Harga minyak dunia dilaporkan mengalami penurunan drastis, hampir mencapai 7 persen pada Senin, 25 Mei 2026. Penurunan ini terjadi menyusul munculnya sinyal positif terkait potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Kesepakatan tersebut diharapkan dapat membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz, yang memiliki peran vital dalam distribusi minyak global.

Akibatnya, kontrak berjangka minyak mentah Brent tercatat melemah dan diperdagangkan pada posisi USD96,30 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat juga mengalami pelemahan sebesar 6,5 persen, dengan harga diperdagangkan di level USD90,88 per barel.

Perubahan signifikan dalam sentimen pasar ini dipicu oleh laporan diplomatik dan pernyataan dari sejumlah pejabat. Laporan dan pernyataan tersebut mengindikasikan adanya komunikasi yang intensif antara Washington dan Teheran.

Kondisi ini membuat para investor mulai mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya secara signifikan menopang harga minyak dunia.

Meskipun optimisme terhadap proses negosiasi meningkat, baik pemerintah AS maupun Iran secara resmi masih menahan ekspektasi pasar mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.

Baca juga: Penurunan Produksi Migas Hulu Pertamina di 2025 Disebabkan Sumur Tua

Kedua negara menilai bahwa masih terdapat sejumlah persoalan teknis dan pembahasan mengenai sanksi yang perlu diselesaikan sebelum kesepakatan final dapat dicapai.

Para pengamat pasar menilai bahwa dinamika geopolitik memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pergerakan komoditas energi global.

Potensi dibukanya kembali Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur vital distribusi minyak dunia, dianggap mampu secara signifikan menurunkan kekhawatiran pasar terkait potensi gangguan pasokan energi.

Selain faktor geopolitik yang menjadi pendorong utama, tekanan terhadap harga minyak juga turut dipicu oleh melemahnya permintaan dari sejumlah negara konsumen utama.

Faktor lain yang berkontribusi adalah penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat. Kombinasi sentimen negatif ini mendorong terjadinya aksi jual di pasar kontrak berjangka minyak.