GueBerita.com – PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mencatat realisasi produksi minyak dan gas bumi sepanjang tahun 2025 mencapai 1,03 juta barel setara minyak per hari (BOEPD).
Angka ini menunjukkan adanya penurunan jika dibandingkan dengan pencapaian pada tahun 2024 yang tercatat sebesar 1,04 juta BOEPD.
Penurunan produksi ini terjadi seiring dengan tantangan yang dihadapi pada lapangan-lapangan migas yang sudah tua, yang secara alami mengalami penurunan produksi atau dikenal sebagai natural decline.
Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi, menyatakan bahwa fenomena natural decline ini merupakan tantangan utama dalam upaya mempertahankan tingkat produksi migas nasional.
Baca juga: IIMS Surabaya 2026 Hadir dengan Area Baru yang Lebih Luas, Dukung Industri Otomotif
Menurutnya, mayoritas sumur migas di Indonesia saat ini telah memasuki fase penurunan produksi setelah sebelumnya mencapai titik puncaknya.
Awang menjelaskan lebih lanjut bahwa rata-rata tingkat natural decline di Indonesia cukup signifikan, yaitu sekitar 24 persen per tahun untuk produksi minyak dan 21 persen per tahun untuk produksi gas bumi.
Angka penurunan ini dianggap cukup besar dan memerlukan upaya strategis yang memadai untuk dapat menahannya.
“Ini artinya, jika kita tidak melakukan intervensi apapun, atau istilahnya tidak ada upaya untuk menahan penurunan ini, maka produksi kita secara alami setiap tahun untuk minyak akan berkurang 24 persen, sementara untuk gas akan turun sebesar 21 persen,” ungkap Awang saat Rapat Kerja Bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Menghadapi realitas penurunan produksi ini, PHE mengambil langkah proaktif dengan mempercepat berbagai program revitalisasi lapangan migas.
Selain itu, perusahaan juga meningkatkan investasi pada teknologi enhanced oil recovery (EOR) atau metode peningkatan perolehan minyak.
Teknologi EOR ini diyakini menjadi salah satu solusi krusial untuk mengoptimalkan produksi dari lapangan-lapangan migas tua yang masih menyimpan potensi cadangan yang belum tergarap sepenuhnya.
Beberapa langkah teknis yang diprioritaskan dalam program revitalisasi ini meliputi teknik injeksi air, injeksi gas, hingga pemanfaatan teknologi digital yang memungkinkan pemantauan kondisi reservoir secara real-time.






