GueBerita.com – Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, berkolaborasi dengan Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN), telah secara resmi memperkenalkan program terbarunya yang bertajuk Hutan Wakaf Muhammadiyah. Program perintis ini dimulai di lingkungan Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), memanfaatkan area wakaf seluas sekitar 3.000 meter persegi. Lahan ini direncanakan akan berfungsi sebagai pusat pembelajaran ekologi, fasilitas riset, dan kawasan konservasi. Mahasiswa, dosen, serta masyarakat umum nantinya dapat memanfaatkan area ini untuk memperdalam pengetahuan mereka mengenai agroforestri, ekologi, dan manajemen lingkungan hidup.
Lebih dari sekadar fungsi sebagai “paru-paru kota”, Hutan Wakaf ini juga akan berperan sebagai arboretum yang menaungi berbagai spesies tanaman endemik. Keberadaannya diharapkan mampu menjaga iklim mikro di sekitarnya, memberikan manfaat lingkungan yang lebih luas. Program Hutan Wakaf ini dibangun di atas tiga pilar utama yang saling melengkapi.
- Hutan Wakaf Pendidikan & Riset: Fokus pada kegiatan akademik dan penelitian.
- Hutan Wakaf Agroforestri: Mengintegrasikan aspek pertanian dan kehutanan.
- Hutan Wakaf Pemberdayaan Perempuan: Memberikan ruang dan kesempatan bagi kaum perempuan.
Peluncuran program ini dianggap sebagai respons konstruktif dan solusi terhadap kecenderungan pengelolaan perhutanan sosial saat ini. Banyak program yang dinilai terlalu menekankan aspek ekonomi semata, sementara dimensi agama, budaya, dan konservasi murni sering kali terabaikan.
Acara peluncuran awal atau soft launching program ini dilaksanakan pada tanggal 19 Agustus 2025. Momen tersebut bertepatan dengan pelaksanaan Rapat Senat Terbatas dalam rangka Milad ke-26 UNIMUS. Peluncuran ini secara resmi menandai diperkenalkannya sebuah model baru dalam pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan, dengan landasan utama pada konsep wakaf.
Ketua LHKP PP Muhammadiyah, Ridho Alhamdi, menekankan bahwa inisiatif ini merupakan langkah nyata untuk menghadirkan alternatif dalam pengelolaan lahan. Ia menyatakan bahwa program ini menawarkan sebuah pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam, upaya konservasi, serta partisipasi aktif dari masyarakat.
“Program ini alternatif menjadi pengelolaan lahan berbasis nilai Islam, konservasi, dan partisipasi masyarakat,” tegas Ridho Alhamdi mengenai visi program tersebut.
Rektor UNIMUS, Masrukhi, menyambut baik program Hutan Wakaf Muhammadiyah ini. Beliau melihatnya sebagai sebuah terobosan penting yang akan memberikan dampak positif bagi lingkungan kampus. Masrukhi secara khusus menyoroti dimensi spiritual dan jangka panjang dari kegiatan penanaman pohon yang menjadi inti dari program ini.
Baca juga: Sapi Brangus Pilihan Presiden Prabowo untuk Kurban
“Menanam pohon bukan sekadar upaya penghijauan, tetapi juga simbol menanam harapan bagi kehidupan di masa depan,” ujar Rektor UNIMUS, Masrukhi, dalam pernyataannya.






