GueBerita

Portal Berita Terkini, Viral & Informasi Hari Ini

Daftar Pemimpin Dunia yang Jadi Target Penyadapan dan Dampaknya

Avatar photo

GueBerita.com – Praktik penyadapan ilegal terhadap pejabat negara kembali mencuat ke permukaan setelah Bareskrim Polri menetapkan sejumlah perwira tinggi kepolisian sebagai tersangka dalam kasus yang menargetkan Presiden Prabowo Subianto. Fenomena spionase politik ini mengingatkan publik bahwa kerentanan keamanan komunikasi para pemimpin dunia bukanlah hal baru dalam dinamika geopolitik global.

Dalam perkembangan terbaru per 5 November 2026, Bareskrim Polri telah menetapkan empat tersangka, termasuk mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Kadiv Polri Irjen Ahrie Sonta Nasution, Irjen Pol Eko Hadi, dan yang terbaru adalah Irjen Slamet Uliandi. Menurut Komjen Pol Asep Safrudin, aksi penyadapan tersebut berlangsung sejak 2025 hingga Oktober 2026 tanpa melalui prosedur hukum atau laporan polisi yang sah.

Kasus ini menambah daftar panjang insiden penyadapan yang melibatkan tokoh-tokoh penting di berbagai negara. Berikut adalah beberapa catatan sejarah mengenai pemimpin dunia yang pernah menjadi target aksi intelijen:

1. Angela Merkel (Jerman)
Pada 2015, dunia digemparkan oleh laporan WikiLeaks yang menyebut Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) menyadap komunikasi Kanselir Jerman Angela Merkel beserta stafnya. Penyadapan ini diduga telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menargetkan lebih dari 125 nomor telepon pejabat tinggi Jerman untuk memantau percakapan terkait kebijakan ekonomi dan diplomatik.

2. Francois Hollande (Prancis)
Masih di tahun 2015, dokumen yang dipublikasikan oleh media Prancis, Liberation, dan situs Mediapart mengungkap bahwa NSA juga memantau komunikasi Presiden Prancis saat itu, Francois Hollande. Hal ini memicu rapat darurat di Paris untuk membahas dampak spionase terhadap kedaulatan negara, terutama terkait posisi Prancis dalam isu ekonomi Yunani dan hubungan bilateral dengan Jerman.

3. Dilma Rousseff (Brasil)
Mantan Presiden Brasil, Dilma Rousseff, menjadi korban spionase elektronik yang dilakukan NSA. Dokumen yang dibocorkan Edward Snowden menunjukkan bahwa badan intelijen AS tersebut memantau komunikasi pribadi Rousseff, kedutaan besar, hingga perusahaan minyak negara, Petrobras. Rousseff secara tegas mengecam tindakan ini sebagai pelanggaran privasi dan kedaulatan ekonomi.

4. Recep Tayyip Erdogan (Turki)
Sekitar tahun 2013-2014, otoritas Turki membongkar aksi penyadapan di ruang kerja pribadi Perdana Menteri saat itu, Recep Tayyip Erdogan. Penyelidikan menunjukkan adanya perangkat penyadap (bug) yang dipasang di dalam stopkontak oleh oknum internal. Ratusan aparat, jaksa, dan hakim kemudian ditangkap atas tuduhan keterlibatan dalam jaringan yang dianggap berupaya menggulingkan pemerintah.

5. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
Di Indonesia, isu penyadapan pernah mencuat pada 2013 setelah dokumen rahasia dari Edward Snowden mengungkap bahwa intelijen Australia menyadap telepon genggam Presiden SBY selama 15 hari pada Agustus 2009. Selain SBY, target penyadapan Australia juga mencakup Wakil Presiden, menteri, hingga pejabat tinggi lainnya dalam lingkaran pemerintahan saat itu.

6. Prabowo Subianto (Indonesia)
Terkait kasus yang kini ditangani Bareskrim Polri, penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto disebut-sebut tidak hanya menyasar nomor telepon kepala negara, tetapi juga meluas ke tokoh politik, media, organisasi masyarakat, LSM, hingga kalangan pengusaha. Penyidik menduga ada upaya penghapusan jejak digital pada Oktober 2026 untuk menutupi praktik ilegal tersebut.

Hingga saat ini, proses hukum terus berjalan di Bareskrim Polri. Meski telah berstatus tersangka, Irjen Slamet Uliandi belum ditahan oleh pihak kepolisian karena alasan kondisi kesehatan yang bersangkutan yang sedang menjalani pengobatan pasca-stroke. Kasus ini sekaligus menjadi momentum bagi pemerintah dan DPR untuk memperkuat payung hukum terkait aktivitas penyadapan di Indonesia.

Avatar photo