Muhak Girls’ High School Jadi Koedukasi, Seoul Ubah 8 Sekolah

Pendidikan148 Views

GueBerita.com – Kantor Pendidikan Metropolitan Seoul memberikan restu atas pengajuan delapan dari 11 sekolah untuk bertransformasi menjadi institusi koedukasi pada Kamis, 30 Juli 2026. Dengan keputusan ini, sekolah-sekolah terkait diizinkan untuk mulai membuka pendaftaran bagi siswa laki-laki dalam kurun waktu dua tahun ke depan.

Tujuh sekolah direncanakan mulai menerapkan sistem pendidikan campuran pada tahun ajaran 2027, yang mencakup Muhak Girls‘ High School, sedangkan Sacred Heart Girls’ High School dijadwalkan menyusul pada 2028.

Pihak Kantor Pendidikan Metropolitan Seoul menjelaskan bahwa langkah ini diambil guna merespons penurunan jumlah populasi usia sekolah, meningkatkan jangkauan pendidikan, memeratakan distribusi sekolah berdasarkan gender, serta memperbanyak opsi pemilihan sekolah bagi para pelajar.

Muhak Girls’ High School, institusi yang telah beroperasi sejak 1940, melayangkan permohonan transisi tersebut pada Juni 2026 agar dapat menerima siswa putra mulai tahun ajaran 2027.

Populasi siswa di Muhak Girls’ High School mengalami penyusutan, dari 521 siswa di tahun 2023 menjadi 406 siswa pada 2026, yang berdampak pada pengurangan jumlah kelas tahun pertama dari delapan menjadi enam kelas.

Manajemen sekolah berpendapat bahwa kehadiran siswa laki-laki dari lingkungan sekitar dapat menjaga stabilitas jumlah kelas sekaligus menunjang implementasi sistem kredit SMA yang menuntut ketersediaan variasi mata pelajaran lebih luas.

Kantor Pendidikan Metropolitan Seoul turut menyediakan bantuan berupa pembenahan fasilitas, seperti kamar kecil dan ruang ganti, serta alokasi dana sebesar 300 juta won bagi tiap sekolah selama tiga tahun untuk memfasilitasi masa transisi dan penambahan staf pendamping.

Walau demikian, rencana alih status ini menuai protes dari kalangan alumni, siswa, dan orang tua murid Muhak Girls’ High School. Mereka merasa aspirasi mereka kurang didengar dan mencemaskan hilangnya jati diri sekolah khusus perempuan yang telah terjaga selama berpuluh-puluh tahun.

Gejala penolakan serupa sempat muncul pada beberapa universitas perempuan di Korea Selatan saat isu penerimaan mahasiswa laki-laki mencuat, dengan poin utama perdebatan mengenai aspek keamanan, transparansi proses konsultasi, serta upaya mempertahankan identitas lembaga pendidikan tersebut. (*)