GueBerita.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya secara resmi meresmikan ajang Lomba Pisang Danor (Pemilahan Sampah Anorganik dan Organik) tahun 2026 yang berlangsung di Graha YKP, Jalan Penjaringan Sari No. 39, Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, Surabaya, pada Rabu (5/8/2026).
Kompetisi Pisang Danor merupakan sebuah inisiatif edukatif yang dirancang untuk memotivasi warga agar membiasakan diri memisahkan limbah organik dan anorganik mulai dari skala rumah tangga.
Kegiatan ini digagas oleh Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya dengan menjalin sinergi bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB) Kota Surabaya.
Saat menyampaikan sambutan, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menekankan bahwa masalah limbah tidak akan pernah tuntas selama warga belum menumbuhkan rasa peduli terhadap kebersihan lingkungan.
Beliau berpendapat bahwa mayoritas sampah yang diproduksi di Surabaya adalah limbah organik yang sebetulnya bisa diproses langsung di kediaman masing-masing.
“Apabila kita tidak memiliki kecintaan terhadap lingkungan, maka persoalan sampah tidak akan pernah usai. Terlebih lagi, volume sampah terbanyak yang dihasilkan adalah sampah organik,” ucap Wali Kota Eri.
Ia percaya bahwa jika sampah organik berhasil dikelola di lingkup keluarga, maka beban operasional pengangkutan serta pemrosesan limbah akan menurun drastis.
“Jika sampah organik ini mampu dikelola hingga ke rumah-rumah, maka beban biaya pengelolaan sampah sebenarnya dapat ditekan,” ungkapnya.
Wali Kota Eri membeberkan bahwa Pemkot Surabaya saat ini harus menanggung biaya tipping fee di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo sebesar kurang lebih Rp217.000 per ton.
Oleh sebab itu, ia mengimbau masyarakat untuk mulai memilah serta mengolah limbah dari rumah sehingga dana APBD yang digunakan untuk pengelolaan sampah dapat dihemat dan dialokasikan untuk program yang jauh lebih bermanfaat.
“Mengapa saya mengajak Anda semua untuk mengolah sampah? Karena daripada anggaran pemerintah kota habis untuk membayar biaya sampah, jauh lebih baik jika dana tersebut dialihkan untuk membiayai pendidikan gratis mulai dari jenjang SD, SMA, hingga kuliah, itu jauh lebih berharga,” pungkasnya.






