GueBerita.com – Pernyataan kontroversial dari Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (DPW FK KBIHU) Jawa Barat, Syatori, telah memicu kehebohan di ranah publik setelah sebuah segmen dari rapatnya dengan Komisi VIII DPR RI beredar luas di media sosial.
Peristiwa yang menjadi sorotan ini terjadi dalam sebuah rapat yang diselenggarakan di Jakarta pada hari Senin, 6 Juli 2026. Dalam kesempatan tersebut, Syatori mengajukan usulan mengenai perlunya penetapan batas usia yang lebih tegas serta pemeriksaan kemampuan fisik atau istitha’ah yang lebih mendalam bagi para calon jemaah haji dan umrah.
Syatori mengemukakan pandangannya bahwa jemaah haji yang telah berusia lanjut seringkali memerlukan tingkat pendampingan yang lebih intensif selama menjalani seluruh rangkaian ibadah haji. Hal ini, menurutnya, dapat menimbulkan tantangan tersendiri dalam upaya memberikan pendampingan yang optimal di lapangan.
Ia berargumen bahwa fokus jemaah lainnya yang ingin khusyuk dalam menjalankan ibadah masing-masing bisa terganggu oleh kebutuhan pendampingan ekstra bagi jemaah lansia. Lebih lanjut, Syatori memaparkan data dari operasional haji tahun 2026, di mana ia mengamati adanya lebih dari 60 jemaah dalam kloter pertama yang terpaksa menggunakan kursi roda.
Oleh karena itu, Syatori menekankan pentingnya validitas dalam pemeriksaan kesehatan atau istitha’ah yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa calon jemaah yang diberangkatkan benar-benar telah memenuhi kriteria kesehatan yang dipersyaratkan.
Pernyataan Syatori tersebut sontak mendapat respons langsung dari salah seorang anggota Komisi VIII DPR RI, Matindas J. Rumambi. Dalam forum rapat yang sama, Matindas secara tegas meminta Syatori untuk menarik kembali penggunaan istilah yang terkesan menyudutkan, seperti menyebut jemaah haji lansia sebagai “merepotkan”, terlebih mengingat rapat tersebut disiarkan secara langsung.
Menanggapi kritik tersebut, Syatori memberikan klarifikasi bahwa yang ia maksudkan bukanlah untuk merendahkan, melainkan untuk menggambarkan kondisi riil jemaah yang memang membutuhkan perhatian dan bantuan lebih banyak selama pelaksanaan ibadah. Ia menegaskan bahwa hal itu mencakup, misalnya, kebutuhan akan penggunaan kursi roda.
Video cuplikan dari rapat tersebut kemudian diunggah kembali oleh sebuah akun di platform Threads dengan nama pengguna @mekahmadinahid pada hari Selasa, 7 Juli 2026. Unggahan ini dengan cepat menyebar dan menuai beragam tanggapan.
Postingan di media sosial tersebut berhasil menarik perhatian ratusan komentar dari para warganet. Banyak di antara mereka yang secara khusus menyoroti dan memberikan tanggapan atas pernyataan yang dilontarkan oleh Syatori mengenai jemaah haji lansia.






