GueBerita.com – Upaya pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang di perairan Selat Sunda memasuki babak baru yang penuh ketegangan. Di tengah harapan keluarga akan kepulangan mereka, munculnya temuan jenazah di dua lokasi berbeda sempat memicu perhatian publik, meski otoritas kepolisian kini telah memberikan klarifikasi terkait keterkaitan jenazah tersebut dengan rombongan yang hilang.
Peristiwa ini bermula ketika rombongan yang menumpangi kapal cepat Arupadatu 1 bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin, 7 September 2026, sekitar pukul 14.00 WIB. Tujuan mereka adalah melakukan peliputan aktivitas vulkanik di kawasan Gunung Anak Krakatau. Namun, sejak saat itu, kontak dengan rombongan tersebut terputus, memicu operasi pencarian besar-besaran oleh Tim SAR Gabungan.
Adapun lima jurnalis yang berada dalam rombongan tersebut adalah Muhammad Bagus Khoirunas (Antara), Arie Basuki (merdeka.com), Donal Husni (fotografer lepas), Yudhistira (iNews), serta Daus (Anadolu). Selain para awak media, terdapat tiga warga yang merupakan kru kapal, yakni Warta (55) sebagai kapten, Surakman (60) selaku ABK, dan Heriyanto (49) sebagai pemandu.
Status Temuan Jenazah di Kali Terate dan Pulau Enggano
Terkait temuan jenazah di muara Kali Terate, Kramatwatu, Serang, Banten, pada Sabtu, 12 September 2026, pihak kepolisian telah memastikan bahwa jenazah tersebut bukan bagian dari rombongan yang hilang. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Banten, Komisaris Besar Polisi Maruli Ahiles Hutapea, menegaskan bahwa kesimpulan ini diambil berdasarkan analisis data primer dan pemeriksaan forensik yang mendalam.
“Untuk jenazah yang ditemukan di sekitar muara Sungai Kali Terate, Kramatwatu, berdasarkan data primer yang kami peroleh dan hasil pemeriksaan, dipastikan bukan merupakan salah satu dari teman-teman yang hilang kontak dari kapal speed boat Arupadatu,” ungkap Maruli pada Selasa, 15 September 2026.
Situasi berbeda terjadi pada temuan jenazah di Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu. Hingga saat ini, identitas sosok tersebut masih menjadi teka-teki. Jenazah tersebut telah dievakuasi ke Polda Bengkulu dan menjalani proses autopsi pada Senin, 14 September 2026. Mengingat kondisi fisik jenazah, khususnya pada bagian wajah yang mengalami kerusakan, identifikasi visual tidak memungkinkan untuk dilakukan.
Polda Banten menyatakan bahwa proses identifikasi saat ini sangat bergantung pada hasil uji DNA. Pihak kepolisian telah mengambil sampel DNA dari keluarga para korban yang hilang untuk dicocokkan dengan data forensik jenazah di Bengkulu. Berdasarkan informasi awal dari Polda Bengkulu, jenazah di Enggano berjenis kelamin laki-laki, memiliki tinggi badan sekitar 165 sentimeter, dan diperkirakan berusia di atas 50 tahun.
Pihak kepolisian mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan terkait Identitas Jenazah di Pulau Enggano sebelum hasil resmi pemeriksaan DNA keluar.
Perpanjangan Operasi Pencarian
Seiring dengan proses identifikasi yang masih berjalan, operasi pencarian di Selat Sunda tetap menjadi prioritas utama. Mengingat pencarian telah memasuki hari ketujuh tanpa menemukan petunjuk signifikan terkait lokasi kapal atau para korban, Tim SAR Gabungan memutuskan untuk memperpanjang durasi pencarian.
Kepala Basarnas Banten, Al Amrad, menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah melalui rapat koordinasi dan evaluasi mendalam. Operasi pencarian resmi diperpanjang selama tiga hari ke depan, dengan batas akhir dijadwalkan pada Kamis, 17 September 2026. Tim SAR berharap cuaca di perairan Selat Sunda tetap kondusif agar proses penyisiran dapat dilakukan secara optimal, mengingat kendala cuaca berkabut sempat menghambat jalannya operasi dalam beberapa hari terakhir.
Seluruh pihak, baik dari instansi pemerintah, media, maupun keluarga, kini masih menanti kabar terbaru dari lapangan. Transparansi informasi dari kepolisian diharapkan dapat meredam simpang siur isu yang berkembang di masyarakat terkait nasib para jurnalis dan kru kapal tersebut.






