Pakar IPB Jelaskan Penyebab Autoimun dan Mengapa Wanita Lebih Rentan

Lifestyle3 Views

GueBerita.com — Kasus penyakit autoimun secara global dilaporkan terus meningkat secara signifikan. Saat ini, diperkirakan sekitar 10 persen dari populasi dunia telah terdampak oleh kondisi ini.

Sementara itu, di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, angka prevalensinya sudah mencapai 3 hingga 5 persen. Menariknya, data menunjukkan bahwa sekitar 80 persen dari total penderita autoimun adalah perempuan.

Penyakit autoimun kini bukan lagi menjadi sebuah kondisi yang langka. Lonjakan kasus ini dinilai oleh para ahli terjadi akibat perpaduan kompleks antara faktor genetik, gaya hidup modern, serta pengaruh lingkungan.

Pakar Genetika Ekologi dari IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, memberikan penjelasan mendalam mengenai mekanisme terjadinya penyakit ini. Beliau menegaskan bahwa autoimun tidak serta-merta diturunkan secara langsung dari orang tua ke anak.

“Autoimun tidak langsung diwariskan kepada anak, tetapi ada predisposisi genetik yang meningkatkan risiko mereka, selain faktor lingkungan. Penyakit autoimun muncul dari kombinasi genetik dan lingkungan, bukan hanya karena kesalahan gen yang diwariskan,” jelas Prof. Ronny Rachman Noor.

Kondisi medis ini dapat muncul ketika ada interaksi yang rumit antara kerentanan gen seseorang dengan pemicu eksternal yang ada di lingkungan sekitar. Mulai dari infeksi virus atau bakteri, paparan polusi udara, sinar ultraviolet (UV), hingga tingkat stres yang tinggi. Hingga saat ini, sudah ada lebih dari 100 jenis penyakit autoimun yang berhasil teridentifikasi oleh dunia medis.

Mengingat jenisnya yang sangat beragam, mengenali gejala awal menjadi kunci penting agar penanganan bisa dilakukan sedini mungkin. Prof. Ronny menjabarkan beberapa tanda klinis yang paling sering dikeluhkan oleh pasien.

“Secara umum, gejala autoimun ini sering kali mencakup rasa sangat lelah, nyeri sendi atau otot, ruam kulit atau perubahan warna kulit, demam ringan yang muncul berulang, gangguan pencernaan seperti diare atau nyeri perut, serta penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas,” urai Prof. Ronny.

Meskipun penyakit autoimun belum dapat dicegah secara total maupun disembuhkan sepenuhnya, gejalanya sangat bisa dikendalikan agar penderita tetap memiliki kualitas hidup yang baik.

Penanganan medis umumnya melibatkan penggunaan obat-obatan seperti Nonsteroidal Anti-inflammatory Drugs (NSAID), kortikosteroid, hingga imunomodulator untuk menekan respons imun yang berlebihan.

Selain mengandalkan terapi medis, perubahan kebiasaan sehari-hari memegang peran yang sangat krusial dalam manajemen penyakit ini. Prof. Ronny menyarankan para penderita untuk mulai disiplin dalam menjaga kondisi tubuh secara mandiri.

Lebih lanjut, Prof. Ronny menjelaskan mengapa perempuan lebih rentan mengalami penyakit autoimun dibandingkan laki-laki. Perbedaan hormonal menjadi salah satu faktor utama yang berperan dalam hal ini.

“Perempuan memiliki sistem kekebalan tubuh yang cenderung lebih reaktif dibandingkan laki-laki. Hal ini berkaitan dengan hormon estrogen, di mana hormon tersebut dapat memengaruhi aktivitas sel-sel kekebalan tubuh,” terang Prof. Ronny.

Interaksi antara hormon estrogen dengan sistem imun ini dapat memicu respons imun yang lebih kuat, yang pada akhirnya meningkatkan risiko terjadinya serangan terhadap jaringan tubuh sendiri. Selain itu, faktor genetik yang terkait dengan kromosom seks juga diduga turut berkontribusi terhadap perbedaan kerentanan ini.

Prof. Ronny menekankan pentingnya kesadaran masyarakat mengenai penyakit autoimun. Edukasi yang tepat dapat membantu masyarakat, terutama perempuan, untuk lebih waspada terhadap gejala-gejala yang muncul dan segera memeriksakan diri ke tenaga medis.

Mengenali gejala awal dan melakukan diagnosis dini sangat krusial untuk mendapatkan penanganan yang efektif. Hal ini dapat mencegah perburukan kondisi penyakit dan komplikasi yang mungkin timbul.

Penting untuk diingat bahwa gaya hidup sehat memegang peranan penting dalam mengelola penyakit autoimun. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berolahraga secara teratur, mengelola stres dengan baik, dan memastikan istirahat yang cukup dapat membantu menjaga keseimbangan sistem kekebalan tubuh.

Selain itu, menghindari paparan terhadap faktor lingkungan yang diketahui dapat memicu atau memperburuk kondisi autoimun juga menjadi langkah pencegahan yang penting. Ini termasuk menjaga kebersihan diri, membatasi paparan polusi, serta melindungi kulit dari paparan sinar matahari berlebih.

Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai faktor pemicu dan kerentanan terhadap penyakit autoimun, diharapkan masyarakat dapat mengambil langkah-langkah preventif dan kuratif yang lebih efektif. Kolaborasi antara individu, tenaga medis, dan pemerintah dalam meningkatkan kesadaran dan akses terhadap layanan kesehatan menjadi kunci dalam menghadapi lonjakan kasus autoimun di masa mendatang.