Cara Sehat Makan Mi Saat Diet Tanpa Khawatir Kenaikan Berat Badan

Lifestyle14 Views

GueBerita.com – Saat menikmati hidangan hangat seperti semur atau hot pot khas Korea, menambahkan mi ke dalam kuahnya adalah godaan yang sulit ditolak. Pilihan antara ramen instan yang gurih atau mi kaca (dangmyeon) yang kenyal seringkali bergantung pada selera masing-masing individu.

Namun, bagi mereka yang sedang dalam program penurunan berat badan, pertanyaan krusial yang sering muncul adalah: di antara kedua jenis mi tersebut, mana yang memiliki kandungan kalori lebih rendah?

Meskipun sekilas terlihat serupa saat tersaji dalam mangkuk setelah dimasak, kedua jenis mi ini sebenarnya memiliki profil nutrisi dan dampak kesehatan yang cukup berbeda.

Mi kaca atau dangmyeon umumnya terbuat dari pati kentang atau ubi jalar. Satu porsi mi kaca kering seberat 100 gram ternyata menyimpan kalori yang cukup padat, yaitu sekitar 340 hingga 370 kalori.

Angka ini seringkali mengejutkan banyak orang karena lebih tinggi dari perkiraan mereka. Di samping itu, mi jenis ini hampir seluruhnya didominasi oleh karbohidrat olahan, dengan kandungan serat atau protein yang sangat minim.

Meskipun mi kaca dapat mengembang berkali-kali lipat saat dimasak sehingga porsinya terlihat banyak, total kalori yang masuk ke dalam tubuh tetaplah signifikan.

Jika dibandingkan dengan ramen, mi kaca memang mengandung lebih sedikit lemak. Kendati demikian, mi ini tetap berisiko memicu lonjakan kadar gula darah secara cepat karena struktur utamanya yang berupa pati olahan.

Menanggapi hal ini, para ahli nutrisi menyarankan agar jika Anda tetap ingin memilih mi kaca, sebaiknya kurangi porsi nasi yang dikonsumsi. Padukan hidangan tersebut dengan sayur-sayuran serta sumber protein tanpa lemak.

Langkah ini sangat efektif untuk meningkatkan rasa kenyang sekaligus membantu menstabilkan kadar gula darah Anda. Di sisi lain, satu porsi standar mi ramen mengandung sekitar 300 hingga 350 kalori, jumlah yang hampir sama dengan mi kaca.

Tantangan utama pada ramen terletak pada proses produksinya. Sebagian besar mi ramen instan melalui proses penggorengan saat diproduksi. Akibatnya, ramen cenderung memiliki kandungan lemak total dan lemak jenuh yang jauh lebih tinggi, sementara pasokan serat makanannya tergolong sangat sedikit.

Hal tersebut berarti konsumsi ramen tidak hanya memasok karbohidrat, tetapi juga melonjakkan asupan lemak harian secara signifikan. Kalori dan lemak jenuh ini akan bertambah berkali-kali lipat jika Anda menambahkan bahan makanan olahan lain seperti ham, sosis, atau lelehan keju di atas hidangan tersebut.