GueBerita.com – Indonesia kembali mengukir sejarah luar biasa di panggung arkeologi internasional. Guinness World Records secara resmi telah menetapkan lukisan cadas prasejarah yang ditemukan di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, sebagai seni gua tertua di dunia.
Mahakarya purba berbentuk cap tangan tersebut diperkirakan telah berumur setidaknya 67.800 tahun. Angka ini sukses menggeser dominasi sejarah seni gua purba yang selama ini kerap diklaim oleh negara-negara di benua Eropa.
Penemuan fenomenal ini didapatkan melalui hasil riset kolaboratif antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama para peneliti internasional. Informasi ini dilaporkan melalui akun Twitter @insidefolkative pada tanggal 23 Mei.
Baca juga: Jalan Kaki 1 Km Bakar Kalori Berapa, Ini Cara Hitung Energi Tubuh
Berdasarkan hasil pengujian ilmiah berlapis yang mutakhir, seni cadas non-figuratif ini terbukti jauh lebih tua dibandingkan dengan lukisan dinding Gua Lascaux di Prancis. Lukisan di Prancis tersebut hanya berumur sekitar 17.000 tahun.
Bahkan, temuan di Pulau Muna ini melampaui rata-rata usia lukisan gua tertua di daratan Eropa. Lukisan di Eropa umumnya hanya mencapai usia 40.000 tahun. Pengakuan resmi dari Guinness World Records ini tentu saja memicu gelombang apresiasi dan rasa bangga dari masyarakat luas di media sosial.
Berbagai platform digital dipenuhi oleh komentar positif dari netizen yang takjub akan kekayaan historis Nusantara. Penemuan ini memantapkan posisi Indonesia bukan hanya sebagai negara kepulauan yang indah. Ia juga menegaskan Indonesia sebagai pusat peradaban dan perkembangan pola pikir visual manusia modern awal di wilayah Asia-Pasifik.
Menanggapi pencapaian besar tersebut, salah seorang warganet dengan akun @mhasanmtqn turut memberikan pandangannya mengenai signifikansi temuan ini bagi peradaban global. Ia mengungkapkan rasa bangga tersebut secara terbuka melalui kolom komentar di media sosial.
Ungkapan tersebut menegaskan bahwa warisan masa lalu ini memiliki nilai yang sangat universal dan melampaui batas-batas negara. Ia menuliskan, “Guinness World Records resmi mengakui. Ini aset berharga banget buat edukasi dan sejarah dunia, bukan cuma Indonesia ???????? proud.”
Kini, fokus utama pemerintah melalui BRIN adalah memastikan kelestarian situs prasejarah di Sulawesi Tenggara tersebut agar tidak mengalami kerusakan. Hal ini penting mengingat sifat seni cadas yang sangat sensitif terhadap perubahan iklim, kelembapan udara, dan aktivitas manusia.
Oleh karena itu, pembatasan kunjungan fisik ke situs tersebut mulai diterapkan. Sebagai langkah solutif bagi sektor edukasi global, visualisasi digital interaktif terus dikembangkan. Tujuannya agar masyarakat dari seluruh belahan bumi tetap bisa mempelajari bukti kecerdasan leluhur manusia ini secara aman.






