Dampak Dugaan Penipuan Riset WNI di ISPPD 2026 Terhadap Nama Indonesia

Viral17 Views

GueBerita.com – Nama Rifaldy Fajar dan Prihantini kini tengah menjadi sorotan publik. Keduanya diduga terlibat dalam kasus penipuan riset yang rencananya akan dipresentasikan dalam konferensi ilmiah internasional, International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026, yang akan diselenggarakan di Kopenhagen, Denmark.

Kasus ini mulai mencuat ke permukaan setelah seorang peneliti asal Indonesia, Ida Bagus Mandhara Brasika, membagikan penjelasan mendalam melalui akun Instagramnya dengan nama pengguna @mandharabrasika pada hari Senin, 25 Mei 2026. Dalam unggahannya, Mandhara secara spesifik menyoroti dugaan penggunaan data penelitian yang keasliannya dipertanyakan oleh kelompok periset asal Indonesia tersebut.

Baca juga: Festival Budaya Indonesia Dimulai di Boon Pring, Fokus pada Kelestarian Budaya dan Pariwisata

Perhatian publik terhadap isu ini semakin meluas. Hal ini didorong oleh tanggapan dari peneliti Indonesia lainnya, Wa Ode Dwi Daningrat, yang juga turut memberikan komentarnya melalui platform media sosial. Dwi menjelaskan bahwa dugaan praktik penipuan riset ini memberikan dampak negatif yang signifikan.

Dampak tersebut dirasakan oleh para peneliti Indonesia lain yang telah melakukan persiapan matang dan serius untuk mengikuti konferensi internasional bergengsi tersebut. Melalui sebuah unggahan video di akun Instagramnya, @w.o.d.d, pada Selasa, 26 Mei 2026, Dwi memaparkan bahwa banyak peneliti dari Indonesia telah bekerja keras menyusun abstrak dan poster penelitian mereka jauh sebelum konferensi dijadwalkan.

Ia menambahkan bahwa beberapa peneliti bahkan telah mendedikasikan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan penelitian yang rencananya akan dipresentasikan di ISPPD 2026. Menurut Dwi, kasus dugaan penipuan ini berpotensi merusak citra para peneliti Indonesia di mata peserta konferensi internasional lainnya.

Lebih lanjut, Dwi juga menyoroti bentuk fisik dari poster presentasi yang digunakan oleh kelompok periset yang menjadi pokok persoalan. Ia mengungkapkan bahwa poster yang mereka gunakan dicetak menggunakan kertas ukuran HVS A4. Kualitas dan ukuran poster tersebut dinilai sangat tidak sesuai dengan standar presentasi yang umumnya berlaku dalam konferensi ilmiah internasional.

Dalam unggahan video yang sama, Dwi mengaku secara langsung mendengar komentar dari beberapa peserta konferensi yang berasal dari negara lain. Komentar-komentar tersebut secara khusus ditujukan kepada presentasi yang ditampilkan oleh kelompok periset tersebut, yang menimbulkan kesan negatif.