GueBerita.com– Badan Gizi Nasional (BGN) telah resmi mengumumkan perubahan signifikan pada skema penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan mulai berlaku pada tahun anggaran 2026.
Perubahan mendasar ini mencakup penyesuaian jadwal distribusi makanan bergizi, yang kini hanya akan dilaksanakan pada hari-hari sekolah aktif. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan efisiensi anggaran program.
Sebelumnya, program MBG memiliki cakupan distribusi selama enam hari dalam sepekan. Namun, mulai tahun 2026, frekuensi penyaluran akan dikurangi menjadi lima hari, menyesuaikan dengan kalender akademik sekolah.
Baca juga: Suasana Khidmat Iduladha di Masjid Istiqlal Bersama Wapres
Selain itu, BGN juga akan menghentikan mekanisme pengemasan makanan untuk dibawa pulang (bundling) yang selama ini disediakan bagi siswa untuk dikonsumsi pada hari libur. Kebijakan ini diharapkan dapat menekan biaya operasional yang terkait dengan logistik dan penyimpanan.
Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sonjaya, menekankan bahwa meskipun ada penyesuaian dalam distribusi, komitmen pemerintah terhadap pelaksanaan program MBG di seluruh wilayah Indonesia tetap menjadi prioritas utama. Ia menegaskan bahwa efisiensi yang dilakukan tidak akan mengurangi esensi program dalam pemenuhan gizi anak sekolah.
Menurut Sony, penyesuaian ini dirancang untuk memastikan bahwa alokasi anggaran program menjadi lebih efektif dan dapat menjangkau sasaran yang tepat. Tujuannya adalah untuk mengoptimalkan penggunaan dana publik agar program dapat berjalan lebih efisien.
Lebih lanjut, Sony menjelaskan bahwa perubahan sistem distribusi ini akan membuat operasional program menjadi lebih ringkas. Hal ini juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dalam pemanfaatan dana yang dialokasikan untuk program MBG.
Ia memberikan jaminan bahwa pemerintah akan terus memprioritaskan program MBG sebagai salah satu upaya krusial untuk mengatasi masalah kekurangan gizi pada anak usia sekolah. Perhatian khusus akan tetap diberikan kepada daerah-daerah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap isu gizi buruk.
Berdasarkan analisis internal yang dilakukan oleh BGN, penghentian penyediaan paket makanan untuk hari libur diperkirakan akan memberikan dampak positif yang signifikan terhadap pengurangan beban biaya. Biaya logistik dan penyimpanan, yang selama ini memakan porsi anggaran yang cukup besar, diharapkan dapat ditekan.
Selain itu, pengurangan frekuensi distribusi harian juga dinilai akan berkontribusi pada optimalisasi rantai pasok. Hal ini memungkinkan bahan makanan yang disalurkan kepada siswa menjadi lebih segar dan proses pengawasan kualitasnya menjadi lebih mudah dilakukan.
Di berbagai daerah, pihak sekolah telah menunjukkan respons positif terhadap perubahan kebijakan ini. Mereka memahami bahwa penyesuaian tersebut merupakan langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas program MBG dalam jangka panjang.






