Kontroversi Drama “Perfect Crown”, Penggambaran Joseon Jadi Sorotan Publik

GueBerita.com – Drama Korea terbaru Perfect Crown (2026) masih menjadi topik perbincangan hangat di Korea Selatan, bahkan setelah dua minggu penayangan episode terakhirnya.

Kontroversi ini dipicu oleh sebuah adegan penobatan raja yang secara keliru menggambarkan Kerajaan Joseon berada di bawah kekuasaan Kaisar Tiongkok.

Penggambaran yang dinilai tidak akurat secara historis ini sontak menuai kritik tajam dari publik, bahkan berujung pada pengajuan petisi kepada Majelis Nasional.

Hingga tanggal 26 Mei 2026, petisi tersebut berhasil mengumpulkan sekitar 50 ribu tanda tangan hanya dalam kurun waktu lima hari, menunjukkan besarnya perhatian dan kekhawatiran masyarakat.

Bagi sebagian besar masyarakat Korea Selatan, isu ini bukan sekadar kesalahan dalam penyajian fakta sejarah belaka.

Dinasti Joseon memiliki makna mendalam sebagai kerajaan yang berdiri dengan kedaulatan penuh sejak didirikan pada tahun 1392.

Kerajaan ini dianggap sebagai fondasi krusial bagi pembentukan identitas dan budaya Korea modern yang mereka banggakan.

Oleh karena itu, penggambaran yang menyiratkan Joseon sebagai negara bawahan dinilai sangat merendahkan posisi historisnya.

Hal ini juga berpotensi besar untuk menyesatkan pemahaman generasi muda mengenai sejarah bangsanya sendiri.

Sensitivitas terhadap isu sejarah ini semakin terasa mengingat hubungan bilateral antara Korea Selatan dan Tiongkok saat ini sedang tidak dalam kondisi yang optimal.

Dalam konteks politik dan budaya yang sedang memanas, setiap narasi yang mengesankan adanya ketergantungan historis Korea terhadap Tiongkok dapat dengan mudah memicu perdebatan sengit.

Kritik terhadap drama Perfect Crown tidak hanya datang dari kalangan akademisi atau tokoh publik.

Banyak penonton umum yang merasa prihatin dan menganggap simbol-simbol kebangsaan Korea sedang dipertanyakan melalui penggambaran tersebut.

Baca juga: IIMS Surabaya 2026 Lampaui Target Pengunjung, Pertanda Gairah Otomotif Daerah Tetap Tinggi

Kontroversi yang timbul dari drama ini ternyata tidak hanya bergema di dalam negeri Korea Selatan.